pengantar linguistik umum (Frase & Klausa)

Frase merupakan satuan linguistik yang lebih besar dari kata dan lebih kecil dari klausa dan kalimat. Selain itu frase merupakan kumpulan kata nonpredikatif. Artinya frase tidak memiliki predikat dalam strukturnya.  Berikut ini merupakan jenis-jenis frase :

      Frase Eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai persamaan distribusi dengan unsurnya. Frasa ini tidak mempunyai unsur pusat. Jadi, frasa eksosentris adalah frasa yang tidak mempunyai unsur pusat. Misalnya : di dalam rumah

Frase Endosentris merupakan frase yang kedudukannya dapat digantikan oleh unsurnya dalam fungsi tertentu. Dengan kata lain, frase endosentris adalah frasa yang mempunyai unsur pusat. Misalnya : hari libur

Frase Nominal merupakan frase yang predikatnya berupa kata benda atau kata sifat dapat juga dikatakan frase yang memiliki distributif yang sama dengan kata nominal. Misalnya :  rumah makan

Frase Verbal yaitu frase yang unsur pusatnya berupa kata yang termasuk kategori verba. Misalnya : akan berlayar

Frase Ambigu frase yang memiliki kegandaan makna yang menimbulkan keraguan atau mengaburkan maksud kalimat. Misalnya: Ayah teman saya yang baik. (bisa mengandung arti : 1. Ayah, teman saya baik. 2. Ayah, teman, saya baik. 3. Ayah teman saya, baik)

Frase Bilangan: frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan. Misalnya : dua buah apel

Frase Keterangan : frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata keterangan. Misalnya : besok lusa

Frase Depan : frase yang terdiri dari kata depan sebagai penanda, diikuti oleh kata atau frase sebagai aksinya. Misalnya : dari kota

  1. Klausa

Klausa adalah sekumpulan kata yang terdiri dari subjek dan predikat walau dalam beberapa bahasa dan beberapa jenis klausa, subjek dari klausa mungkin tidak tampak secara eksplisit dan hal ini khususnya umum dalam bahasa bersubyek nol. Sebuah kalimat paling sederhana terdiri dari satu klausa. Atau dengan kata lain klausa adalah satuan gramatika yang terdiri dari subjek (S) dan predikat (P) bisa juga disertai objek (O) dan keterangan (K), serta berpotensi untuk menjadi kalimat. Misalnya: banyak orang mengatakan.

Berikut ini merupakan jenis-jenis klausa berdasarkan :

Kategori Kata atau Frasa

Jika dianalisis secara fungsional akan terdapat beberapa struktur seperti yang tertulis di bawah ini :

Adik membeli buku kemarin.

Adik = S & N / frase & kata, Membeli = P & V, Buku = O & N, Kemarin = KET & ket / KET & ADV.

Keterangan :

N         = Nomina (kata benda)

V         = Verba (kata kerja)

ADV    = Adverbia (kata keterangan)

Struktur

Berdasarkan strukturnya, klausa dapat digolongkan menjadi 3, yaitu :

1)       Berdasarkan Struktur Intern

a)      Klausa dibagi menjadi dua macam, yaitu klausa lengkap dan klausa tidak lengkap. Klausa lengkap, berdasarkan struktur internnya, dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu :

  • Klausa lengkap yang subjeknya terletak di depan predikat. Klausa yang subjeknya terletak di depan predikat disebut klausa lengkap susun biasa. Contoh : Gedung kesenian itu sangat megah.
  • Klausa lengkap yang subjeknya terletak di belakang predikat disebut klausa lengkap susun balik atau klausa inversi. Contoh : Sangat megah gedung kesenian itu.

b)      Klausa tidak lengkap sudah tentu hanya terdiri atas unsur predikat, disertai objek, pelengkap atau keterangan. Contoh: Sedang bermain-main. (klausa tersebut hanya terdiri atas predikat.

Ada Tidaknya Kata Negatif yang secara Gramatik Menegatifkan P

a)      Klausa Positif ialah klausa yang tidak memiliki kata negatif yang secara gramatik menegatifkan predikat. Contoh : Mereka diliputi oleh perasaan senang.

b)      Klausa Negatif ialah klausa yang memiliki kata-kata negatif (seperti tiada, tak, bukan, belum dan jangan)  yang secara gramatik menegatifkan predikat. Contoh : Dia tidak makan.

Kategori Kata atau Frasa yang Menduduki Fungsi P

Berdasarkan golongan atau kategori kata atau frasa yang menduduki fungsi predikat, klausa dapat digolongkan menjadi empat golongan.

a)      Klausa Nominal ialah klausa yang predikatnya terdiri atas kata atau frasa yang secara gramatik dapat menduduki fungsi S, P, dan O  (pada klausa) dan tidak dapat dinegatifkan dengan kata tidak, melainkan dengan kata bukan, dapat diikuti kata itu sebagai atributnya dan dapat mengikuti kata depan di atau pada sebagai aksisnya. Contoh : Yang dibeli orang itu sepeda (pada frase).

b)      Klausa Verbal ialah klausa yang predikatnya terdiri atas kata atau frasa yang cenderung menduduki fungsi predikat (pada klausa) dan dapat dinegatifkan dengan kata tidak (pada frase). Contoh : 1. Petani mengerjakan sawahnya dengan tekun. Berdasarkan golongan kata verbal itu, klausa verbal dapat digolongkan sebagai berikut.

  • Klausa verbal adjektif yaitu klausa yang predikatnya terdiri atas kata golongan verba yang termasuk golongan kata sifat atau terdiri atas frase golongan verba yang unsur pusatnya berupa kata sifat. Contoh : Cuacanya sangat ekstrim.
  • Klausa verbal intransitif yaitu klausa yang predikatnya terdiri atas kata verbal yang termasuk golongan kata kerja intransitif atau terdiri atas frasa verbal yang unsur pusatnya berupa kata kerja intransitif. Contoh : Burung-burung beterbangan di atas permukaan air laut.
  • Klausa verbal aktif yaitu klausa yang predikatnya terdiri atas kata verbal yang termasuk golongan kata kerja transitif atau terdiri atas frasa verbal yang unsur pusatnya berupa kata kerja transitif. Contoh : Ari membaca komik.
  • Klausa verbal pasif yaitu klausa yang predikatnya terdiri atas kata verbal yang termasuk golongan kata kerja pasif atau terdiri atas frasa verbal yang unsur pusatnya berupa kata kerja pasif. Contoh : buku itu diambil adik.
  • Klausa verbal yang refleksif yaitu klusa yang predikatnya terdiri atas kata verbal yang termasuk golongan kata kerja refleksif yaitu kata kerja yang menyatakan perbuatan yang mengenai pelaku perbuatan itu sendiri. Pada umumnya kata kerja ini berbentuk kata kerja meN- diikuti kata diri. Contoh : Anak-anak itu menyembunyikan diri.
  • Klausa verbal yang resiprokal

Klausa ini predikatnya terdiri atas kata verbal yang termasuk golongan kata kerja resiprokal, yaitu kata kerja yang menyatakan kesalingan. Bentuknya ialah (saling) meN-, saling ber-an dengan proses pengulangan atau tidak dan saling meN-. Contoh : Mereka bersalam-salaman saat bertemu di Mall.

c)      Klausa Bilangan atau klausa numeral ialah klausa yang predikatnya terdiri atas kata atau frasa golongan bilangan (biasanya diikuti oleh kata penyukat seperti ekor, batang, keping, buah, kodi, helai, dan masih banyak lagi). Contoh : Ayah membeli seekor ayam.

d)       Klausa Depan atau klausa preposisional ialah klausa yang predikatnya terdiri atas frase depan, yaitu frasa yang diawali oleh kata depan sebagai penanda. Contoh: a. Kredit itu untuk para pengusaha lemah. b. Pegawai itu ke kantor setiap hari.

Dalam kalimat tertentu, klausa memiliki dua bagian, yakni klausa induk (induk kalimat) dan klausa subordinatif (anak kalimat). Keberadaan klausa induk dan klausa anak ini mensyaratkan konstruksi tataran sintaksis yang lebih besar.

Daftar Pustaka

Verhaar, J.W.M. Asas-asas Linguistik Umum. 2006. Gadjah Mada University : Yogyakarta

morfologi

Morfologi adalah bidang ilmu linguistik yang mengidentifikasikan satuan-satuan dasar bahasa (morfem) sebagai satuan gramatikal. Morfem merupakan satuan bahasa terkecil yang maknanya secara relatif stabil dan dapat dibagi menjadi bagian bermakna yang lebih kecil. Misalnya morfem pada kata “berhak” yaitu [ber-] dan [hak], sedangkan fonemnya yaitu /b/, /e/, /r/, /h/, /a/ dan /k/. Morfem dibedakan menjadi 2, yaitu :

ÿ  Morfem bebas, yaitu morfem yang dapat berdiri sendiri secara potensial. Morfem ini tetap memiliki makna yang jelas meskipun tanpa menempel pada morfem lain. Misalnya: meja, kursi, lemari.

ÿ  Morfem terikat, yaitu morfem yang tidak mempunyai potensi untuk berdiri sendiri dan selalu terikat dengan morfem lain untuk membentuk suatu ujaran. Misalnya, kupu menjadi kupu-kupu, mayur menjadi sayur mayur.

Yang termasuk jenis morfem terikat adalah imbuhan (afiks) seperti prefix, infiks, sufiks, konfiks. Afiks merupakan bentuk terikat yang akan mengubah makna gramatikal bila ditambahkan pada suatu morfem. Proses atau hasil penambahan afiks pada akar kata disebut afiksasi. Prefiks merupakan afiks yang ditambahkan pada bagian depan pangkal suatu kata dasar. Misalnya, [ber] pada kata ber-main. Sufiks merupakan afiks yang ditambahkan pada bagian belakang pangkal suatu kata dasar. Misal, [-an] pada kata hambat-an. Infiks merupakan afiks yang ditambahkan atau disisipkan ke dalam kata dasar. Misal, [-er-] pada kata g-er-igi. Konfiks merupakan afiks tunggal yang terjadi atas penambahan 2 bagian afiks yang terpisah (ditambahkan di awal dan di akhir), misal: ke-an dalam ke-buruk-an.

Ilmu ini bisa juga diteliti secara bersamaan dengan kajian ilmu linguistik yang lain, sehingga ada beberapa istilah untuk kajian ilmu ini seperti morfofonologi, morfosintaksis dan morfosemantik. Berikut ini merupakan kajian yang dapat dilakukan untuk meneliti afiksasi dalam sebuah bahasa. Kajian tersebut antara lain :

Infleksi adalah perubahan bentuk kata yang menunjukkan berbagai hubungan gramatikal; unsur yang ditambahkan pada sebuah kata untuk menunjukkan suatu hubungan gramatikal, misal: /s/ pada kata [girls] menunjukkan jamak, /s/ pada kata [eats] menunjukkan infleksi kata kerja (verba) orang ketiga.

Derivasi adalah proses pengimbuhan afiks non-inflektif pada morfem dasar untuk membentuk kata.

Kedua kajian tersebut (derivasi dan infleksi) memiliki ciri yang sangat bertolak belakang. Berikut ini merupakan ciri-ciri sekaligus perbedaan antara kedua kajian tersebut :

No.

Derivasi

Infleksi

1.

Tidak relevan dengan sintaksis Relevan dengan sintaksis

2.

Opsional Obligatori

3.

Dapat diganti dengan kata sederhana Tidak dapat diganti dengan kata sederhana

4.

Konsepnya baru Konsepnya sama dengan bentuk dasarnya

5.

Makna cenderung konkret Makna cenderung abstrak

6.

Tidak beraturan secara semantik Beraturan secara semantik

7.

Sangat berhubungan dengan makna dasar Hubungan dengan makna dasar hilang

8.

Penggunaannya terbatas Penggunaannya tidak terbatas

9.

Ekspresi terdekat pada kata dasar Ekspresi di luar struktur inti

10.

Menambah alomorf dasar Alomorf dasar hilang

11.

Tidak ada ekspresi yg bertumpuk Memungkinkan ekspresi yg bertumpuk

12.

Ada pengulangan suku kata Tidak ada pengulangan suku kata

Reduplikasi adalah proses dan hasil pengulangan satuan bahasa sebagai alat fonologis atau gramatikal. Dalam ilmu linguistik reduplikasi dibedakan menjadi 8 jenis, yaitu :

Reduplikasi antisipatoris, yaitu reduplikasi yang terjadi karena bahasawan (ahli linguistik) mengantisipasikan bentuk yang akan diulangnya.

Reduplikasi fonologis, yaitu pengulangan unsur-unsur fonologis seperti fonem, suku kata atau bagian kata. Reduplikasi fonologis tidak ditandai oleh perubahan makna.

Reduplikasi gramatikal, yaitu pengulangan fungsional dari suatu bentuk dasar.

Reduplikasi idiomatis, yaitu reduplikasi yang maknanya tidak dapat dijabarkan dari bentuk yang diulang.

Reduplikasi konsekutif, yaitu reduplikasi yang terjadi karena bahasawan (ahli linguistik) mengungkapkan lagi bentuk yang sudah diungkapkan, prosesnya terjadi ke belakang.

Reduplikasi morfologis, pengulangan morfem yang menghasilkan kata.

Reduplikasi non-idiomatis, yaitu reduplikasi yang maknanya jelas baik dari bagian yang diulang maupun prosesnya.

Reduplikasi sintaksis, yaitu pengulangan morfem yang menghasilkan klausa.

Pemajemukan (compounding) adalah penggabungan dua morfem dasar atau lebih untuk membentuk satu kata (majemuk). Misalnya, sapu tangan (sapu + tangan), rumah sakit (rumah + sakit).

Berikut ini merupakan pendapat para ahli mengenai infleksi dan derivasi.

a)        Langacker, (Language and It’s Structure, 1973:78-79) menyebutkan bahwa ketika afiks derivasional dan infleksional melekat pada suatu kata dasar, ada kecenderungan yang kuat bagi afiks derivasional untuk lebih dekat dengan kata dasar tersebut jika dibandingkan dengan afiks infleksional. Misalnya, pada kata [darkens], sufiks [-en] menderivasi ajektiva dark menjadi darken ; kemudian sufiks infleksional s melekat pada kata hasil derivasi tersebut.

b)        Scalise, (Generative Morphology, 1984 : 103) berpendapat bahwa afiks derivasional tidak dapat melekat pada kata yang sudah diinfleksi, namun afiks infleksional dapat melekat pada kata yang sudah diderivasi.

c)        Katamba, (Morphology, 1993 : 50) menyebutkan bahwa afiks derivasional adalah afiks yang dipergunakan untuk membuat suatu leksem baru, baik dengan cara memodifikasi makna akar kata tempat mereka menempel, mengubah kelas gramatikal yang menyebabkan perubahan makna, maupuan mengubah sub-kelas gramatikal sebuah kata tanpa mengubahnya menjadi sebuah identitas kata yang baru.

d)       Tsujimura, (An Introduction to Japanese Linguistics, 1996:141-142), Morfem derivasional adalah morfem terikat yang dapat mengubah makna dan atau kategori kata yang dilekatinya. Misalnya, morfem [す-, su- (telanjang)] dilekatkan pada kata benda (nomina) [あし, ashi (kaki)] menjadi [すあし, suashi (kaki telanjang]. Morfem [す-, su-] tidak mengubah identitas kata yang dibentuknya, namun mengubah makna kata tersebut. Sementara itu, morfem infleksional tidak membuat suatu kata baru yang berbeda, seperti yang dilakukan oleh morfem derivasional. Misal dalam bahasa Jepang terdapat morfem yang menunjukkan kalimat bukan lampau biasanya ditandai dengan morfem [-る, -ru] dan kalimat lampau ditandai dengan morfem [-た, -ta].

Klitika merupakan morfem pendek yang terdiri atas 2 silabel atau paling tidak satu silabel. Morfem ini tidak bisa diberi aksen atau tekanan dan mengandung arti yang sulit dideskripsikan secara leksikal. Klitika juga tidak terikat pada morfem-morfem tertentu (morfem bebas). Namun adakalanya klitika juga selalu terikat pada morfem-morfem tertentu (morfem terikat). Misalnya, klitika [-pun] dan [-lah] (contoh klitika dalam bahasa Indonesia). Berdasarkan letaknya, klitika dibedakan menjadi 2 jenis yaitu :

Proklitika, merupakan klitik yang terletak di sebelah kiri dari suatu kata.

Enklitika, merupakan klitik yang terletak di sebelah kanan dari suatu kata.

fonologi

Fonologi merupakan kajian ilmu linguistik yang membahas tentang perbendaharaan fonem sebuah bahasa dan distribusinya. Fonologi tidak sama dengan fonetikkarena fonetik mempelajari tentang perealisasian atau pelafazan bunyi-bunyi fonem sebuah bahasa. Fonetik juga mempelajari cara kerja organ tubuh manusia, terutama yang berhubungan dengan penggunaan bahasa.

Menurut Kridalaksana (2002) dalam kamus linguistik, fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya. Fonologi mempunyai dua cabang kajian, yaitu :

Fonetik yaitu cabang kajian yang mengkaji bagaimana bunyi-bunyi fonem sebuah bahasa direalisasikan atau dilafalkan. Fonetik juga mempelajari cara kerja organ tubuh manusia terutama yang berhubungan dengan penggunaan bahasa. Chaer (2007) membagi urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, menjadi tiga jenis fonetik, yaitu:

a)        fonetik artikulatoris atau fonetik organis atau fonetik fisiologi, mempelajari mekanisme alat-alat bicara manusia dalam menghasilkan bunyi bahasa serta pengklasifikasian bunyi-bunyi itu.

b)        fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam (menyelidiki frekuensi getaran, amplitude dan intesitasnya).

c)        fonetik auditoris mempelajari mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita.

Dari ketiga jenis fonetik tersebut yang hubungannya paling erat dengan dunia lingusitik adalah fonetik artikulatoris karena berkaitan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan atau diucapkan manusia. Sedangkan fonetik akustik lebih berkaitan dengan bidang fisika, dan fonetik auditoris berkenaan dengan bidang kedokteran.

Kedua, fonemik yaitu  kesatuan bunyi terkecil suatu bahasa yang berfungsi membedakan makna. Chaer (2007) mengatakan bahwa fonemik mengkaji bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata. Misalnya bunyi [l], [a], [b] dan [u]; dan [r], [a], [b] dan [u] jika dibandingkan perbedaannya hanya pada bunyi yang pertama, yaitu bunyi [l] dan bunyi [r]. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua bunyi tersebut adalah fonem yang berbeda dalam bahasa Indonesia, yaitu fonem /l/ dan fonem /r/.

  • Fonologi dalam cabang Morfologi

Bidang morfologi terkonsentrasi pada tataran struktur internal kata sering memanfaatkan hasil studi fonologi, misalnya ketika menjelaskan morfem dasar {turun} diucapkan secara bervariasi antara [turUn] dan [tUrUn] serta diucapkan [turunkan] setelah mendapat proses morfologis dengan penambahan morfem sufiks {-kan}.

  •  Fonologi dalam cabang Sintaksis

Bidang sintaksis yang berkosentrasi pada tataran kalimat, misalnya pada kalimat “kamu pulang.” (kalimat berita), kamu pulang? (kalimat tanya), dan kamu pulang! (kalimat perintah). Ketiga kalimat tersebut masing-masing terdiri atas dua kata yang sama tetapi mempunyai maksud yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dijelaskan dengan memanfaatkan hasil analisis fonologis, yaitu intonasi, jeda dan tekanan pada kalimat yang ternyata dapat membedakan maksud kalimat, terutama dalam bahasa Indonesia.

  • Fonologi dalam cabang Semantik

Bidang semantik, yang berkosentrasi pada persoalan makna kata pun memanfaatkan hasil telaah fonologi. Misalnya dalam mengucapkan sebuah kata dapat divariasikan, dan tidak. Contoh kata [tahu], [tau], [teras] dan [t∂ras] akan bermakna lain. Sedangkan kata duduk dan didik ketika diucapkan secara bervariasi [dudU?], [dUdU?], [didī?], [dīdī?] tidak membedakan makna. Hasil analisis fonologislah yang membantunya.

Manfaat Fonologi dalam Penyusunan Bahasa

1.      Ejaan adalah peraturan penggambaran atau pelambangan bunyi ujar suatu bahasa. Karena bunyi ujar terdiri atas dua unsur, yaitu segmental dan suprasegmental, maka ejaan pun menggambarkan atau melambangkan kedua unsur bunyi tersebut.

2.      Perlambangan unsur segmental bunyi ujar tidak hanya melambangkan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk tulisan atau huruf, tetapi juga menuliskan bunyi-bunyi ujar dalam bentuk kata, frase, klausa, dan kalimat, memenggal suku kata, menuliskan singkatan, nama orang, lambang-lambang teknis keilmuan dan sebagainya. Perlambangan unsur suprasegmental bunyi ujar menyangkut bagaimana melambangkan tekanan, nada, durasi, jeda dan intonasi. Perlambangan unsur suprasegmental ini dikenal dengan istilah tanda baca atau pungtuasi.

3.      Tata cara penulisan bunyi ujar memanfaatkan hasil kajian fonologi terutama hasil kajian fonemik terhadap bahasa yang bersangkutan. Oleh karena itu, hasil kajian fonemik terhadap ejaan suatu bahasa disebut ejaan fonemis.

Dalam linguistik, asimilasi adalah proses perubahan bunyi yang menyebabkannya mirip atau sama dengan bunyi lain yang ada di dekatnya, seperti sabtu dalam bahasa Indonesia yang diucapkan [saptu]. Menurut pengaruhnya terhadap fonem, asimilasi dibagi menjadi dua yaitu (1) fonemis, yang menyebabkan berubahnya identitas suatu fonem, dan (2) fonetis, yang tidak menyebabkan perubahan identitas suatu fonem. Menurut letak bunyi yang diubah, asimilasi dibagi tiga yaitu :

a)        progresif, jika bunyi yang diubah terletak di belakang bunyi yang mempengaruhinya,

b)        regresif, jika bunyi yang diubah terletak di depan, serta

c)        resiprokal, jika perubahan terjadi pada kedua bunyi yang saling mempengaruhi.

Fonem sebuah istilah linguistik dan merupakan satuan terkecil dalam sebuah bahasa yang masih bisa menunjukkan perbedaan makna. Fonem berbentuk bunyi. Misalkan dalam bahasa indonesia bunyi [k] dan [g] merupakan dua fonem yang berbeda, misalkan dalam kata “pagar” dan “pakar”. Tetapi dalam bahasa arab hal ini tidaklah begitu. Dalam bahasa Arab hanya ada fonem /k/. Sebaliknya dalam bahasa Indonesiabunyi [f], [v] dan [p] pada dasarnya bukanlah tiga fonem yang berbeda. Kata provinsi apabila dilafazkan sebagai [propinsi], [profinsi] atau [provinsi] tetap sama saja.

Menurut Drs. Yayat Sudaryat, M.Hum, fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan memiliki fungsi untuk membedakan makna.

Menurut Masnur Muslich, fonem adalah kesatuan bunyi terkecil suatu bahasa yang berfungsi membedakan makna. Fonem mengandung fungsi pembeda.

Pengertian fonem menurut Soejono Dardjowidjojo dkk, dalam bukunya yang berjudul Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia edisi pertama, fonem didefinisikan sebagai bunyi bahasa yang berbeda atau mirip. Sedangkan pada edisi ketiga fonem didefinisikan sebagai bunyi bahasa minimal yang membedakan bentuk dan makna kata. Dalam ilmu bahasa fonem ditulis di antara dua garis miring [/../]. Jadi, dalam bahasa Indonesia /p/ dan /b/ adalah dua fonem karena kedua bunyi tersebut membedakan bentuk dan makna kata. Pengertian fonem pada edisi pertama dan ketiga buku tata bahasa baku bahasa Indonesia jelas mengalami perubahan. Pada edisi pertama disebutkan bahwa fonem adalah bunyi bahasa yang berbeda atau mirip, sedangkan pada edisi ketiga mengalami perubahan menjadi bunyi bahasa minimal yang membedakan bentuk dan makna kata. Edisi pertama menyebutkan bahwa fonem adalah bunyi bahasa yang berbeda atau mirip. Hal ini tidak sesuai, fonem bukan hanya bunyi-bunyi bahasa yang berbeda atau mirip,tetapi di samping itu, bunyi bahasa juga mempunyai fungsi,yaitu sebagai pembeda makna atau arti. Fonem adalah kesatuan terkecil bunyi bahasa yang berfungsi sebagai berbeda makna dan bentuknya. Fonem mempunyai fungsi pembeda dalam fonologi, bunyi bahasa (fon) dibedakan menjadi dua, yaitu fonem dan fona. Pembedaan ini didasarkan atas ciri fungsional bunyi bahasa itu sendiri. Ciri fungsional bunyi bahasa yang dimaksud adalah ciri pembeda makna. Bunyi bahasa tersebut dinamakan fonem. Jadi, kesimpulannya adalah fonem merupakan kesatuan bunyi bahasa terkecil yang mempunyai fungsi membedakan makna.

Alofon adalah pembedaan realisasi pelafazan fonem karena posisi yang berbeda dalam kata. Misalkan fonem /b/ dalam bahasa Indonesia dilafazkan pada posisi awal (“bukan”) dan tengah (“ambil”) berbeda dengan fonem yang dilafazkan pada posisi akhir (“kutub”).

Diftong adalah bunyi vokal rangkap yang diucapkan sekaligus yang tergolong dalam satu suku kata. Misalkan dalam bahasa Indonesia ada diftong berikut: /ay/ (“maskapai”), /aw/ (“cincau”) dan /oy/ (“tomboi”). Sedangkan dalam bahasa Jepang misalnya ada diftong berikut : /ei/ (sensei, せんせい), /ai/ (chiisai, ちいさい) dan /ou/ (bangou, ばんごう)

Kluster adalah bunyi konsonan rangkap yang terdapat dalam satu kata. Misalkan dalam bahasa Indonesia ada kluster /gr/ (grafik), /sp/ (spasi). Sedangkan dalam bahasa Jepang ada kluster /kk/ (hitorikko, ひとりっこ), /tt/ (petto, ペット) dan /dd/ (beddo, ベッド)

perayaan selama musim panas

奈津のカレンダー

(Dibuat untuk Memenuhi Tugas Nihon Jijou II)

 

 

 

OLEH

DWI ASIH

0902061004

IIA

 

 

 

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG D3

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

SINGARAJA

2010

 

 

Pendahuluan

Jepang merupakan Negara yang mempunyai empat musim yaitu musim semi (haru), musim panas (natsu), musim gugur (aki) dan musim dingin (fuyu). Sama halnya dengan Negara lain yang mempunyai empat musim, Jepang juga mengalami perubahan musim tiap periode tertentu. Yang membedakan adalah Jepang selalu mengadakan suatu perayaan atau festival yang identik dengan musim yang akan atau sedang berlangsung. Inilah yang menjadi ciri khas Jepang. Sama halnya dengan musim semi (haru), pada saat musim panas pun ada hari-hari tertentu yang menjadi simbol pelaksanaan suatu matsuri. Misalnya Nyuubai, Taue, Tanabata, Bon dan Doyou.

Pembahasan

1. Nyuubai

Nyuubai merupakan masuknya masa musim hujan yang terjadi di seluruh Jepang (kecuali Hokkaido dan Kepulauan Ogasawara). Momen ini biasanya berlangsung sekitar bulan Mei hingga Juli yang ditandai dengan meningkatnya curah hujan (biasa dikenal dengan istilah Tsuyu). Namun secara berangsur-angsur curah hujan akan kembali menurun dan biasanya menjadi jarang

sekali turun hujan (dikenal dengan istilah Karatsuyu). Jika Karatsuyu menjelang ini berarti merupakan suatu bencana bagi para petani yang mempunyai sawah, karena sawah-sawah mereka akan kekurangan air selama Karatsuyu berlangsung.

Musim hujan berawal ketika udara lembab di atas Samudra Pasifik bertemu dengan udara dingin yang berasal dari daratan China. Selanjutnya akan terbentuk badai yang disebut Depresi Frontal yang menyebabkan turunnya hujan. Massa udara hangat dan udara dingin sangat berpengaruh terhadap curah hujan yang turun. Massa udara baik dingin maupun panas yang terlalu besar atau terlalu akan menyebabkan bencana alam berupa banjir atau kekeringan.

2. Taue

Taue merupakan salah satu festival musim panas yang diadakan untuk menyambut datangnya musim menanam padi. Festival ini biasa diadakan tiap bulan Juni. Menanam padi merupakan pekerjaan yang penting karena padi nantinya akan menjadi makanan pokok. Penanaman padi biasanya dilakukan pada awal Juni hingga pertengahan Juni. Akhir-akhir ini penanaman padi di dekat kota besar jarang terlihat karena jumlah petani yang menanam padi jumlahnya makin berkurang.

3. Tanabata (七夕)

Tanabata merupakan salah satu festival yang diadakan pada musim panas. Tanabata lebih dikenal dengan istilah festival bintang. Biasanya di kota-kota besar di Jepang perayaan ini dilakukan secara besar-basaran. Salah satu perayaan Tanabata yang terkenal adalah yang diadakan di Sendai yaitu Sendai Tanabata.

Pada awalnya pelaksanaan festival Tanabata mengikuti kalender Lunisolar yang perhitungannya lebih lambat kira-kira satu bulan dari kalender Gregorian. Namun sejak kalender Gregorian mulai digunakan di Jepang, perayaan Tanabata mulai diadakan pada tanggal 8 Agustus (kalender Gregorian) atau sama dengan tanggal 7 Juli ( hari ke-7 bulan ke-7 pada kalender Lunisolar).

Tradisi Tanabata berasal dari Tiongkok dan mulai diperkenalkan di Jepang pada zaman Nara. Aksara kanji yang digunakan untuk menulis Tanabata adalah shichiseki (七夕)yang berarti malam ke-7. Ada juga yang menulis dengan kanji yang berbeda namun cara bacanya tetap Tanabata (棚機).

Berdasarkan salah satu kalender yang pernah digunakan di Jepang seperti kalender Tempo, Tanabata dirayakan sebelum perayaan Obon yaitu pada tanggal 7 Juli sedangkan sebagian upacara dilakukan di malam hari tanggal 6 Juli.

Berdasarkan tradisi Jepang Kuno, tanabata merupakan sinkretisme antara mendoakan arwah leluhur atas keberhasilan panen dan perayaan Qi Qiao Jie asal Tiongkok yang mendoakan kemahiran wanita dalam menenun. Pada awalnya Tanabata dan Obon merupakan perayaan yang dilakukan secara pada waktu yang hampir sama dan merupakan satu rangkaian perayaan, namun kemudian perayaannya dipisah. Hiasan yang digunakan dalam perayaan Tanabata adalah daun bamboo (sasa) yang dipercaya sebagai tempat tinggal arwah leluhur.

4. Obon (お盆)

Bon merupakan serangkaian upacara dan tradisi Jepang yang dilaksanakan sekitar tanggal 15 Juli (berdasar kalender Lunisolar). Tujuan dari upacara tersebut adalah untuk merayakan kedatangan arwah leluhur. Obon lebih dikenal sebagai upacara yang berhubungan dengan agama Buddha di Jepang, namun ada banyak tradisi dalam

perayaan Obon yang tidak bisa dijelaskan dengan ajaran agama Buddha. Obon yang sering dilakukan saat ini merupakan tradisi secara turun temurun masyarakat dan upacara agama Buddha yang sering dikenal dengan istilah Urabon.

Tradisi dan ritual yang berkaitan dengan Obon tidak selalu sama. Adanya perbedaan tersebut bergantung pada daerah dan aliran agama Buddha yang dianut. Di berbagai daerah di Jepang, khususnya di daerah Kansai juga dikenal perayaan Jizobon yang merupakan perayaan yang dilakukan seusai perayaan Obon.

5. Doyou

Doyou biasanya terjadi sekitar tanggal 20 Agustus. Doyou merupakan saat yang tepat untuk menjaga kesehatan tubuh dengan baik. Karena doyou berlangsung saat musim panas dan suhu panasnya pun sangat menyengat. Oleh karena itu pada saat doyou berlangsung ada suatu kebiasaan mengkonsumsi makanan yang bergizi. Hal ini penting untuk menjaga daya tahan tubuh. Karena biasanya pada saat itu orang-orang tidak terlalu bernafsu makan. Makanan yang biasa dikonsumsi adalah makanan yang bergizi seperti belut. Belut dipercaya dapat mencegah kekurusan, oleh karena itu belut menjadi menu makanan favorit selama Doyou. Setiap hari selama Doyou berlangsung, warung-warung yang menjual belut selalu ramai.

Penutup

  1. Nyuubai merupakan peristiwa masuknya musim hujan yang terjadi sekitar bulan Mei hingga Juli.
  2. Taue merupakan festival menanam padi di sawah yang dilakukan tiap awal hingga pertengahan Juni.
  3. Tanabata merupakan festival yang dikenal dengan festival bintang yang diadakan tiap tanggal 8 Agustus.
  4. Bon merupakan salah satu festival musim panas yang diadakan untuk merayakan kedatangan arwah leluhur.
  5. Doyou berlangsung sekitar tanggal 20 Agustus, pada saat ini dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan bergizi untuk mencegah kekurusan pada cuaca yang menyengat saat musim panas.

perayaan selama musim semi

 

春のカレンダー

(Dibuat untuk Memenuhi Tugas Nihon Jijou II)

 

 

 

OLEH :

DWI ASIH

0902061004

II A

 

 

 

 

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG D3

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

SINGARAJA

2010

 

 


 

PENDAHULUAN

Jepang merupakan salah satu Negara yang memiliki empat musim dengan berbagai perayaan (matsuri) yang berbeda dan memiliki ciri khas tersendiri pada masing-masing musim. Hal inilah yang membedakan Jepang dengan Negara yang mempunyai empat musim lainnya. Seperti perayaan pada musim semi misalnya. Saat musim semi ada berbagai perayaan yang diadakan di Jepang. Matsuri tersebut antara lain Hinamatsuri, Shubun no hi, Hanami dan Kodomo no hi. Masing-masing perayaan memiliki sejarah dan keunikan tersendiri. Oleh karena itu saya akan membahas matsuri tersebut pada pembahasan.

PEMBAHASAN

1. Hinamatsuri (雛祭り)

Hinamatsuri adalah salah satu festival yang diadakan tiap musim semi (haru) di Jepang. Festival disebut juga sebagai festival pembuka musim semi karena Hinamatsuri merupakan festival yang pertama kali diadakan pada musim semi yaitu pada tanggal 3 Maret.

Perayaan Hinamatsuri bertujuan untuk mendoakan anak perempuan agar tumbuh sehat. Oleh karena itu tiap keluarga yang mempunyai anak perempuan ikut merayakan festival ini dengan memajang satu set boneka yang mengenakan kimono zaman Heian dan menggambarkan upacara perkawinan tradisional di Jepang. Perayaan Hinamatsuri disebut juga festival boneka atau festival anak perempuan. Hal ini bermula dari kebiasaan para putri bangsawan dalam bermain, yaitu memainkan boneka putri (hiina bi).

a) Susunan boneka

Boneka dipajang di atas panggung bertingkat (dankazari) yang dilapisi selimut tebal warna merah (hi-mōsen)

  • Tangga teratas, deretan teratas diisi oleh dua boneka yang merupakan simbol kaisar (o-dairi-sama) dan permaisuri (o-hina-sama). Peletakan urutan kanan atau kiri baik untuk kaisar maupun permaisuri di wilayah Kansai dan Kanto berbeda, namun untuk setiap anak tangga berikutnya susunan bonekanya selalu sama.
  • Tangga kedua, Boneka yang dipajang pada tangga kedua yaitu boneka puteri istana yang berjumlah 3 orang (san-nin kanojo) lengkap dengan peralatan minum sake. Boneka putri yang diletakkan di tengah membawa mangkuk sake (sakazuki), sedangkan dua putri lainnya masing-masing membawa poci sake (kuwae no chōshi) dan wadah sake yang disebut (nagae no chōshi).
  • Tangga ketigaLima boneka pemusik pria (go-nin bayashi) berada di tangga ketiga. Semuanya membawa alat musik seperti taiko, okawa, kotsuzumi dan seruling, kecuali penyanyi hanya membawa kipas lipat.
  • Tangga keempat, dua boneka menteri (daijin) yang terdiri dari Menteri Kanan (Udaijin) dan Menteri Kiri (Sadaijin) berada di tangga ke-4.
  • Tangga kelima, pada tangga kelima diletakkan tiga boneka pesuruh pria (shichō) yang masing-masing membawa bungkusan berisi topi (daigasa).

b) Hidangan

selain satu set boneka yang dipajang di rumah ada juga makanan yang dibuat khusus untuk anak perempuan yang merayakan Hinamatsuri. Sajian tersebut antara lain kue hishimochi, kue hikigiri, makanan ringan hina arare, sup bening dari kaldu ikan tai atau kerang (hamaguri ), serta chirashizushi. Selain makanan, minumannya pun juga dibuat khusus untuk hari itu seperti, sake putih (shirozake) yang dibuat dari fermentasi beras ketan dengan mirin atau shochu, dan koji. Selain sake putih ada juga sake manis (amazake) yang dibuat dari ampas sake (sakekasu) yang diencerkan dengan air dan dimasak di atas api.

c) Sejarah

Berdasarkan kalender lunisolar, hari ke-3 bulan ke-3 adalah momo no sekku (perayaan bunga persik), karena bertepatan dengan mekarnya bunga persik. Oleh karena itu Hinamatsuri dirayakan tiap hari ke-3 bulan ke-3. Namun perayaan itu berubah ketika kalender Gregorian mulai digunakan di Jepang pada tanggal 1 Januari 1873. Sejak saat itu perayaan Hinamatsuri berubah menjadi tanggal 3 Maret. Meskipun demikian, sebagian orang masih ada yang lebih memilih perhitungan kalender lunisolar saat merayakan Hinamatsuri (sekitar bulan April pada kalender Gregorian)

Sekitar abad ke-8 ada kebiasaan bermain boneka di kalangan anak perempuan bangsawan istana pada zaman Heian. Biasanya boneka yang dimainkan lengkap dengan rumahnya yang berbentuk istana. Kemudian permainan tersebut dikenal dengan hina asobi. Faktanya, hina asobi adalah sebuah permainan belaka dan bukan merupaka suatu ritual. Meskipun begitu, sejak zaman Edo yakni sekitar abad ke-19, hina asobi mulai dikaitkan dengan perayaan musim semi. Seperti perayaan musim lainnya yang biasanya disebut matsuri, sehingga hina asobi diubah menjadi Hinamatsuri dan perayaannya pun tidak hanya di kalangan istana saja melainkan meluas di kalangan rakyat. Orang Jepang di zaman Edo terus mempertahankan cara memajang boneka seperti tradisi yang diwariskan turun temurun sejak zaman Heian. Boneka dipercaya memiliki kekuatan untuk menyerap roh-roh jahat ke dalam tubuh boneka, dan karena itu menyelamatkan sang pemilik dari segala hal-hal yang berbahaya atau sial. Asal-usul konsep ini adalah hinanagashi (“menghanyutkan boneka”). Boneka diletakkan di wadah berbentuk sampan, Lalu dihanyutkan dalam perjalanan menyusuri sungai hingga akhirnya sampai ke laut dengan membawa serta roh-roh jahat. Kalangan bangsawan dan samurai pada zaman Edo menghargai boneka Hinamatsuri sebagai modal penting untuk wanita yang ingin menikah sekaligus sebagai pembawa keberuntungan. Para orang tua berlomba-lomba membelikan boneka yang terbaik dan termahal bagi putrinya yang ingin menjadi pengantin Sebagai lambang status dan kemakmuran.

Boneka yang digunakan pada awal zaman Edo disebut tachibina (boneka berdiri) karena boneka berada dalam posisi tegak, dan bukan duduk seperti yang sering digunakan dalam perayaan saat ini. Asal-usul tachibina adalah boneka berbentuk manusia (katashiro) yang dibuat ahli onmyodo untuk menghalau nasib sial. Boneka dalam posisi duduk (suwaribina) mulai dikenal sejak zaman Kan’ei. Pada waktu itu, satu set boneka hanya terdiri sepasang boneka yang keduanya bisa dalam posisi duduk maupun berdiri. Seiring dengan perkembangan zaman, boneka menjadi semakin rumit dan mewah. Pada zaman Genroku, orang mengenal boneka genrokubina (boneka zaman Genroku) yang dipakaikan kimono dua belas lapis (jūnihitoe). Pada zaman Kyoho, orang mengenal boneka ukuran besar yang disebut kyōhōbina (boneka zaman Kyōhō). Perkembangan lainnya adalah pemakaian tirai lipat (byōbu) berwarna emas sebagai latar belakang genrokubina dan kyōhōbina sewaktu dipajang. Keshogunan Tokugawa pada zaman Kyōhō berusaha membatasi kemewahan di kalangan rakyat. Boneka berukuran besar dan mewah ikut menjadi sasaran pelarangan barang mewah oleh keshogunan. Sebagai usaha menghindari peraturan keshogunan, rakyat membuat boneka berukuran mini yang disebut keshibina (boneka ukuran biji poppy), dan hanya berukuran di bawah 10 cm. Namun keshibina dibuat dengan sangat mendetil, dan kembali berakhir sebagai boneka mewah. Sebelum zaman Edo berakhir, orang mengenal boneka yang disebut yūsokubina (boneka pejabat resmi istana). Boneka dipakaikan kimono yang merupakan replika seragam pejabat resmi istana. Prototipe boneka Hinamatsuri yang digunakan di Jepang sekarang adalah kokinbina (translasi literal: boneka zaman dulu). Perintis kokinbina adalah Hara Shūgetsu yang membuat boneka seakurat mungkin berdasarkan riset literatur sejarah. Boneka yang dihasilkan sangat realistik, termasuk penggunaan gelas untuk mata boneka. Mulai sekitar akhir zaman Edo hingga awal zaman Meiji, boneka Hinamatsuri yang mulanya hanya terdiri dari sepasang kaisar dan permaisuri berkembang menjadi satu set boneka lengkap berikut boneka puteri istana, pemusik, serta miniatur istana, perabot rumah tangga dan dapur. Sejak itu pula, boneka dipajang di atas dankazari (tangga untuk memajang), dan orang di seluruh Jepang mulai merayakan hinamatsuri secara besar-besaran.

1. Shubun no hi (春分の日)

Shubun no hi atau hari ekuinoks musim semi di jepang merupakan salah satu hari libur resmi yang biasanya jatuh pada tanggal 20 Maret atau 21 Maret ketika terjadi ekuinoks vernal atau titik awal musim semi. Atau bisa dikatakan shubun no hi merupakan peralihan dari musim salju ke musim semi. Saat itu rentang waktu siang sama panjangnya dengan waktu malam. Hari libur ini ditetapkan dengan undang-undang hari libur Jepang (Shukujitsu-hō) tahun 1948 untuk “berterima kasih kepada alam dan mencintai makhluk hidup.”

a) Tradisi

Dalam setahun, periode Higan terjadi dua kali yaitu pada musim semi dan musim gugur. Waktu ini biasanya dimanfaatkan untuk membersihkan makam dan mempersembahkan kue botamochi di altar keluarga. Shubun no hi merupakan saat untuk memulai upacara Shunki Higan-e (higan musim semi) bagi penganut agama Buddha di Jepang. Upacara tersebut berlangsung selama seminggu yang bertujuan untuk mendoakan arwah leluhur. Hingga tahun 1947, hari libur ini disebut Shunki kōrei-sai (春季皇霊) yaitu perayaan musim semi arwah leluhur keluarga kekaisaran.

b) Penentuan tanggal

Penentuan tanggal ekuinoks dilakukan oleh rapat kabinet yang diadakan pada tanggal 1 Februari tahun sebelumnya. Penentuan tanggal tersebut didasarkan pada tabel almanak (Rekishō Nempyō) yang merupakan pamphlet terbitan badan observasi Astronomi Jepang. Hasil rapat diumumkan dalam lembaran negara yang disebut kanpo. Menurut perhitungan astronomi yang berlaku sekarang hingga tahun 2025, ekuinoks vernal selalu jatuh tanggal 21 maret, tapi jatuh tanggal 20 Maret pada tahun kabisat dan tahun sesudah tahun kabisat.

2. Hanami (花見)

Secara harfiah hanami berasal dari kata “hana” yang berarti bunga, dan “mi” yang berarti melihat. Jadi hanami berarti melihat bunga atau dengan kata lain dapat dikatakan menikmati keindahan bunga sakura yang sedang mekar pada musim semi.

Even ini yang sangat dinanti oleh orang-orang Jepang saat musim semi tiba. Hanami biasanya dilakukan di taman terbuka secara berkelompok baik bersama keluarga, teman dan sebagainya. Mereka duduk beralaskan tikar di bawah pohon sakura. Biasanya mereka juga membawa “obento” untuk dimakan sambil menikmati keindahan bunga sakura yang sedang bermekaran. Tidak hanya itu, bahkan ada juga yang melakukannya sambil berkaraoke.

Mereka sangat menikmati saat-saat seperti ini. Saat mereka dapat berkumpul bersama keluarga, teman atau pacar sambil menikmati keindahan bunga sakura. Bahkan ada pula yang rela mengikuti Hanami dari satu kota ke kota lain. Karena momen ini hanya berlangsung selama beberapa hari saja.

3. Kodomo no hi (こどもの日)

Kodomo no hi merupakan hari anak-anak yang disebut juga tango no sekku (perayaan untuk anak laki-laki). Kodomo no hi ini merupakan salah satu perayaan musim semi dan merupakan salah satu hari libur resmi diJjepang yang ditetapkan tiap tanggal 5 mei dan merupakan serangkaian liburan akhir bulan April dan awal bulan Mei. Hari libur tersebut dikenal dengan istilah Golden Week (Minggu Emas). Pengertian istilah Golden Week yaitu jika setelah hari libur berakhir berlanjut dengan libur akhir pekan sehingga jumlah hari libur bertambah.

Sejak tahun 1948 sudah ada peringatan Hari Anak-anak yang telah ditetapkan menjadi hari libur Jepang (Shukujitsu-hō) dengan tujuan untuk menghormati kepribadian anak, merencanakan kebahagiaan anak, dan sebagai ungkapan terima kasih kepada ibu.

Jika pada perayaan Hinamastsuri masing-masing keluarga (yang mempunyai anak perempuan) memajang boneka, lain halnya dengan perayaan kodomo no hi. Pada perayaan kodomo no hi di setiap rumah menaikkan koinobori. Koinobori adalah kain atau kertas dengan berbagai corak yang berisi gambar dan digantungkan pada ujung tali atau bamboo yang membentang tinggi.

a) Asal-usul

Berdasarkan tradisi kuno Tiongkok yang berkaitan dengan musim semi di Jepang perayaan kodomo no hi dikenal dengan sekku. Sejak zaman dulu, tiap bulan ke-5 kalender Tionghoa biasanya diisi dengan kegiatan mengusir ro-roh jahat. Kemudian pada tanggal 5 bulan 5 dikenal dengan Tango no sekku dan merupakan hari untuk merayakan kesehatan dan pertumbuhan untuk anak laki-laki.

Pada awalnya kodomo no hi merupakan perayaan yang khusus untuk anak laki-laki sehingga perayaannya pun identik dengan semua hal yang ada hubungannya dengan anak laki-laki. Namun itu tak berlaku lagi untuk saat ini karena masa kini perayaan kodomo no hi tidak hanya untuk anak laki-laki saja melainkan untuk anak perempuan juga atau bisa dikatakan untuk semua anak-anak pada umumnya.

b) Tradisi

Ada tradisi memajang replika yoroi (pakaian ksatria zaman dulu) dan kabuto (helm samurai) selama perayaan kodomo no hi berlangsung. Keluarga yang memiliki anak laki-laki juga memasang koinobori (bendera berbentuk ikan mas). Pada bendera ikan mas yang paling besar digambarkan anak laki-laki super kuat Kintaro yang sedang menunggang ikan emas. Kabuto, Yoroi, dan tokoh Kintarō digunakan sebagai simbol harapan anak laki-laki yang sehat dan kuat. Kue yang dimakan selama perayaan adalah kue chimaki dan kashiwamoci.

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

a) Hinamatsuri merupakan festival boneka yang merupakan perayaan yang ditujukan untuk anak perempuan, keluarga yang mempunyai anak perempuan memajang satu set boneka.

b) Shubun no hi merupakan hari ekuinoks yang merupakan titik awal musim semi. Pada saat ini rentang waktu siang sama panjangnya dengan waktu malam.

c) Hanami merupakan kebiasaan menikmati keindahan bunga sakura pada saat musim semi. Hanami biasanya dilakukan secara berkelompok dan dilakukan di tempat terbuka di bawah pohon sakura

d) Kodomo no hi merupakan perayaan hari anak-anak yang dilakukan dengan memasang koinobori.

perayaan selama musim dingin

 

冬のカレンダー

(Dibuat untuk Memenuhi Tugas Nihon Jijou II)

 

DWI ASIH

0902061004

II A

 

 

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG D3

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

SINGARAJA

2010

 

 

PENDAHULUAN

Jepang merupakan salah satu Negara yang memiliki empat musim. Meskipun perubahan musim yang terjadi relatif sama namun perubahan musim di Jepang terasa berbeda dengan perubahan musim di Negara lain yang juga memiliki empat musim. Hal ini disebabkan adanya perayaan atau festival (matsuri) yang dilakukan oleh orang-orang Jepang pada saat terjadi perubahan hingga berlangsungnya suatu musim. Perayaan yang diadakan pada tiap musimnya tidaklah sama, karena tiap musim memiliki ciri dan keunikan tersendiri hingga tak jarang banyak wisatawan yang ingin menyaksikan secara langsung perayaan tersebut. Begitu juga dengan musim dingin ada juga perayaannya. Perayaan musim dingin tersebut antara lain Saimatsu, Ganjitsu, Setsubun dan Umematsuri.

PEMBAHASAN

1. Saimatsu

Saimatsu merupakan salah satu perayaan yang dilakukan untuk memperingati akhir tahun (festival tutup tahun). Saat ini biasanya dimanfaatkan untuk berbelanja barang-barang murah. Karena pada saat saimatsu berlangsung biasanya banyak toko-toko yang menjual barang-barang dalam jumlah yang besar dan diskon secara besar-besaran. Atau dengan kata lain mengadakan obral khusus akhir tahun.

Saimatsu juga merupakan masa berlangsungnya Bounenkai, yang merupakan suatu kebiasaan orang-orang Jepang yang berpesta minum minuman beralkohol sampai mabuk. Tujuan Bounenkai adalah untuk melupakan kesusahan yang telah menimpa selama setahun yang telah lalu. Pada masa Bounenkai kereta listrik terakhir dipenuhi oleh orang-orang mabuk.

Saat saimatsu berlangsung ada juga toshi no ichi (pasar) yang diadakan di berbagai kota. Seperti di Tokyo misalnya, tepatnya di Asakusa selalu diadakan hagoita ichi yang berlangsung tiap tanggal 14 desember sampai dengan 18 desember. Hagoita merupakan salah satu permainan yang dimainkan selama tahun baru. Permainan hagoita ini menyerupai permainan badminton. Harga hagoita ini sangat mahal, namun banyak orang yang membelinya karena mereka percaya bahwa permainan tersebut akan membawa nasib baik.

2. Ganjitsu (元日)

Ganjitsu merupakan awal dimulainya tahun baru yaitu pada tanggal 1 januari (dini hari), sedangkan pada pagi harinya sering disebut dengan istilah (元旦) yang artinya pagi pertama di awal tahun.

Di Jepang, tahun baru dirayakan pada tanggal 1 Januari dan berlangsung hingga tanggal 3 Januari yang biasa sanganichi (三が日). Masa ini juga sering disebut shōgatsu (正月,). Awalnya istilah shōgatsu digunakan untuk menyebutkan bulan pertama dalam setahun, namun secara umum sekarang istilah tersebut hanya digunakan untuk menyebut hari pertama hingga hari ketiga di awal tahun. Perayaan ini berlaku secara umum (bersamaan) di seluruh Jepang. Meskipun begitu ada juga daerah yang melangsungkan perayaannya berbeda dengan waktu yang umum digunakan. Di daerah kanto misalnya, perayaannya berlangsung sejak tanggal 1 Januari hingga 7 Januari dan lebih dikenal dengan istilah matsu no uchi (松の内), sedangkan di daerah Kansai berlangsung hingga tanggal 15 Januari dan lebih dikenal dengan istilah koshogatsu (小正月). Selain itu ada juga istilah hatsuka shōgatsu (二十日正月) yang lebih dikenal dengan istilah honeshōgatsu (骨正月) yang berarti tahun baru tulang. Pada masa ini ikan masakan tahun baru sudah habis dimakan sampai ke tulang-tulangnya.

Kegiatan menyambut tahun baru sudah dimulai sejak dua atau tiga minggu sebelum pergantian tahun. Di daerah Kanto, hari persiapan tahun baru yang disebut o-koto hajime (お事始め) jatuh pada 8 Desember, sedangkan di daerah Kansai dimulai pada 13 Desember. hari libur resmi di Jepang ditetapkan sejak tanggal 1 Januari, tapi kantor pemerintah dan perusahaan swasta tutup sejak tanggal 29 Desember hingga 3 Januari. Bank dan lembaga perbankan tutup dari tanggal 31 desenber hingga 3 Januari, kecuali sebagian ATM yang masih melayani transaksi. Sampai tahun 1970-an, sebagian besar toko dan pedagang eceran di daerah Kanto tutup hingga tanggal 5 Januari atau 7 januari. Perubahan gaya hidup dan persaingan dari toko yang buka 24 jam membuat kebiasaan libur berlama-lama ditinggalkan. Mulai tahun 1990-an, hampir semua mall dan pertokoan hanya tutup tanggal 1 Januari dan mulai buka keesokan harinya tanggal 2 Januari, tapi biasanya dengan jam buka yang diperpendek. Hari pertama penjualan barang (hatsu-uri) di pusat pertokoan dimeriahkan dengan penjualan fukubukuro (kantong keberuntungan). Penjualan barang di semua mal dan pertokoan sudah normal kembali sekitar tanggal 4 Januari.

Pada zaman dulu, tahun baru di Jepang dirayakan pada awal musim semi bertepatan dengan Tahun baru Imlek, Tahun baru Korea dan Tahun baru Vietnam. Hal ini dikarenakan kalender Jepang masih berdasarkan kalender Tionghoa. Namun sejak tahun 1873, tahun baru mulai dirayakan pada tanggal 1 Januari karena sejak saat itu pemerintah Jepang mulai menerapkan kalender Gregorian.

Pada tanggal 31 desember atau pada malam tahun baru biasanya disebut ōmisoka (大晦日). Pada malam tahun baru ini ada tradisi memakan soba yang disebut toshikoshi soba (年越しそば ). Stasiun televisi di Jepang, NHK, mempunyai tradisi menayangkan acara Kohaku Uta Gassen, berupa kompetisi lagu antar penyanyi terkenal yang dibagi menjadi kubu merah dan kubu putih. Menjelang pukul 12 malam, genta yang terdapat di berbagai kuil agama Buddha di Jepang dibunyikan. Tradisi memukul genta menjelang pergantian tahun disebut joya no kane (除夜の鐘). Genta dibunyikan sebanyak 108 kali sebagai perlambang 108 jenis nafsu jahat manusia yang harus dihalau.

Setelah itu pada pagi harinya ada semacam tradisi berupa kunjungan pertama kali ke kuil pada awal tahun baru. Pada saat ini di depan kuil-kuil besar sangat ramai karena mereka menunggu dibukanya kuil. Doa yang disampaikan biasanya berupa harapan agar sehat dan selamat sepanjang tahun. Kebiasaan tersebut sering disebut hatsumode.

Masakan istimewa yang dimakan di tahun baru adalah Osechi (sup zoni yang terbuat dari kuah dashi berisi mocha dan sayuran). Berbagai macam lauk masakan osechi kotak kayu bersusun yang disebut jūbako (重箱). Beberapa swalayan besar sejak beberapa minggu sebelum tahun baru juga sudah membuka pemesanan osechi. Lauk pada masakan osechi biasanya sangat manis atau sangat asin, seperti: kuromame, tatsukuri (gomame), konbumaki, kamaboko, kurikinton, kazunoko dan datemaki. Makanan tahun baru diharapkan bisa tahan lama, karena tahun baru merupakan kesempatan libur memasak bagi ibu rumah tangga di Jepang. Selain Osechi ada juga olahan dari ikan. Ikan yang dimasak di tiap daerah berbeda, untuk daerah Jepang bagian timur biasanya menggunakan ikan salem sedangkan di Jepang bagian barat menggunakan ikan sunglir (buri). Beberapa daerah juga memiliki masakan khas yang tidak bisa dinikmati di tempat lain. Seperti di daerah kansai misalnya, ada masakan khas berupa ikan cod kering (bōdara) yang dimasak dengan gula pasir dan shoyu.

Penutupan perayaan tahun baru ditandai dengan memakan bubur nanakusa yang dimasak dengan 7 jenis sayuran dan rumput. Biasanya orang-orang memakan bubur ini sejak tanggal 7 hingga 15 Januari. Tujuannya agar perut bisa beristirahat setelah dipenuhi makanan tahun baru. Acara menumbuk mochi (mochitsuki) merupakan salah satu tradisi menjelang tahun baru. Ketan yang sudah ditanak dimasukkan ke dalam lesung dan ditumbuk dengan alu. Satu orang bertugas menumbuk, sedangkan seorang lagi bertugas membolak-balik beras ketan dengan tangan yang sudah dibasahi air. Beras ketan ditumbuk hingga lengket dan membentuk gumpalan besar mochi berwarna putih. Selain dimakan sebagai pengganti nasi selama tahun baru, mochi juga dibuat hiasan tahun baru yang disebut kagami mochi. Secara tradisional, kagami mochi dibuat dengan cara menyusun dua buah mochi berukuran bundar, ditambah sebuah jeruk di atasnya sebagai hiasan.

Orang Jepang mempunyai tradisi saling mengirim kartu pos nengajō (年賀状) yang akan tiba persis pada tanggal 1 Januari. Kartu pos ucapan tahun baru dijamin sampai ke alamat yang dituju pada tanggal 1 Januari, asalkan dikirim tidak melewati jangka waktu penerimaan yang ditetapkan kantor pos. Penerimaan kartu pos biasanya dimulai pertengahan Desember hingga beberapa hari terakhir sebelum akhir tahun. Kantor pos membutuhkan pegawai ekstra yang direkrut dari kalangan pelajar, agar semua kartu pos bisa tiba tepat pada tanggal 1 Januari.

Sebagai penghormatan terhadap orang yang meninggal, anggota keluarga yang baru ditinggalkan tidak merayakan tahun baru dan tidak mengirim kartu pos tahun baru. Sebagai gantinya, anggota keluarga yang baru ditimpa musibah mengirim kartu pos berisi pemberitahuan tidak bisa mengirim kartu pos ucapan tahun baru.

Setiap tahunnya, Kantor Pos Jepang memiliki tradisi mencetak kartu pos dengan tema yang berbeda-beda. Kartu pos dihiasi dengan lukisan tempat terkenal di Jepang dan gambar binatang shio untuk tahun yang baru. Kartu pos tahun baru yang diterbitkan kantor pos juga memiliki nomor undian yang diundi di awal tahun. Penerima kartu pos yang beruntung bisa memenangkan berbagai hadiah berupa barang. Selain di kantor pos, kartu pos ucapan tahun baru juga bisa dibeli di berbagai tempat. Kartu pos yang dijual di toko buku memiliki pilihan gambar yang lebih banyak, tapi sering masih perlu ditempeli perangko.

Kartu pos ucapan tahun baru bisa ditulisi sendiri dengan berbagai pesan dan ucapan. Gambar binatang atau kalimat ucapan standar bisa ditambahkan dengan menggunakan stempel karet beraneka warna yang dijual di toko buku atau stempel yang disediakan di kantor pos. Kartu pos ucapan tahun baru sering digunakan untuk memamerkan kemampuan menulis indah bagi pengirim yang pandai menulis kaligrafi. Pemilik komputer pribadi bisa menggunakan perangkat lunak khusus untuk mencetak kartu pos. Bagi orang yang memiliki banyak kenalan dan relasi, kartu pos biasanya sudah ditulisi sejak awal bulan Desember. Berbagai ucapan selamat tahun baru yang umum digunakan:

  • Kotoshi mo yoroshiku onegai shimasu (今年もよろしく お願いします)
  • Akemashite omedetō gozaimasu (あけましておめで とうございます)
  • Kin-ga shinnen (謹賀新年)

Orang Jepang mempunyai tradisi memberikan angpao yang dikenal dengan sebutan otoshidama (お年玉). Sewaktu memberikan otoshidama untuk anak-anak, sejumlah uang kertas yang masih baru atau uang logam dimasukkan ke amplop kecil bernama pochibukuro (otoshidama-bukuro) yang berhiaskan aneka gambar kesukaan anak-anak. Otoshidama sangat ditunggu-tunggu anak-anak di Jepang, terutama bila memiliki paman atau bibi yang murah hati.

Perayaan tahun baru juga dimeriahkan dengan menulis aksara kanji pertama untuk tahun tersebut. Tradisi menulis aksara kanji yang dilakukan tanggal 2 Januari disebut kakizome (kaligrafi pertama). Selain itu ada juga berbagai permainan yang dimainkan selama tahun baru, seperti: permainan fukuwarai (meletakkan gambar bagian-bagian wajah, seperti hidung, alis mata, dan mulut pada tempat yang tepat dengan mata tertutup), hanetsuki (bulutangkis tradisional), menaikkan layang-layang (takoage), gasing (koma), bermain dadu (sugoroku), dan permainan memungut kartu yang disebut karuta.

3. Setsubun (節分)

Setsubun biasanya terjadi pada tanggal 3 Januari. Setsubun merupakan nama perayaan yang digunakan di jepang untuk hari yang berlangsung sebelum hari pertama pada setiap musimnya. Ada empat istilah yang digunakan untuk menyebutkan istilah setsubun pada tiap musim, yaitu risshun, rikka, risshuu, dan ritto. Namun sekarang istilah setsubun hanya digunakan untuk hari sebelum musim semi saja (risshun).

Pada zaman dulu, perayaan setsubun adalah perayaan tahunan yang diadakan di istana kaisar. Pada perayaan itu ada berbagai macam boneka (biasanya berbentuk anak-anak dan sapi) dari tanah liat yang sudah diberi warna dan dipajang di berbagai pintu gerbang dalam lingkungan istana.

Tradisi mengusir Oni yang biasa dilakukan saat setsubun berasal dari upacara Tsuina yang sudah dilakukan sejak zaman Heian. Di zaman modern, berbagai tradisi kuno setsubun lenyap digantikan tradisi melempar kacang dan menegakkan kepala ikan sarden yang ditusuk dengan ranting pohon hiiragi di pintu masuk rumah pada saat senja di hari setsubun. Di beberapa daerah di Jepang, orang menggantung kepala ikan sardin dan ranting pohon hiiragi di atas pintu rumah. Tradisi tersebut dilakukan untuk mengusir oni yang dipercaya lahir pada hari setsubun.

Kacang kedelai yang sudah digongseng matang dilempar-lemparkan ke arah oni. Tradisi melempar kacang merupakan perlambang keinginan bebas dari penyakit dan selalu sehat sepanjang tahun. Oni yang terkena lemparan kacang konon bakal kabur karena kesakitan. Kacang dilempar-lemparkan sambil mengucap mantera “Oni wa soto, fuku wa uchi” (Oni di luar, keberuntungan ke dalam). Di beberapa daerah yang memiliki kuil yang dipercaya ditinggali oni, mantera dibalik menjadi “Oni wa uchi, fuku wa soto (Oni ke dalam, keberuntungan ke luar),” atau kedua belah pihak diminta masuk ke dalam. Di rumah yang ditinggali orang yang memiliki nama keluarga dengan aksara kanji “Oni” (鬼) seperti “Onizuka” atau “Kitō,” mantera juga tidak mengusir “Oni” ke luar. Kacang kedelai juga dimakan setelah dihitung jumlahnya agar sama dengan usia orang yang memakan. Tradisi setsubun merupakan perpaduan upacara mengusir arwah jahat di istana yang berasal dari tradisi Tiongkok dengan upacara Mamemaki (melempar kacang) yang bertujuan serupa di kuil agama Buddha dan Shinto. Kacang yang dilempar-lemparkan biasanya adalah kacang kedelai, tapi sering diganti dengan kacang tanah sesuai dengan selera orang zaman sekarang.

Beberapa pekan menjelang hari setsubun, toko-toko atau swalayan mulai menjual kacang keberuntungan (fukumame) di tempat khusus yang gampang dilihat pembeli. Kacang dijual dengan hadiah topeng bergambar Oni untuk dipakai sang ayah atau orang lain di rumah yang berperan sebagai oni, sekaligus sasaran lemparan kacang anak-anak di rumah.

Di sekolah-sekolah dasar dilakukan upacara melempar kacang yang dilakukan murid berusia 12 tahun, karena memiliki shio yang sama dengan shio untuk tahun yang berjalan. Kuil agama Buddha dan Shinto yang bekerjasama dengan taman kanak-kanak dan tempat penitipan anak mengadakan upacara melempar kacang oleh chigo (anak-anak kecil yang dirias) dan miko (pelayan wanita). Kuil besar mengadakan acara melempar kacang yang dilakukan atlet dan orang terkenal. Bungkusan kacang keberuntungan dilemparkan ke tengah-tengah khalayak ramai untuk ditangkap atau dipungut.

Di daerah Kansai terdapat tradisi makan sushi yang disebut Ehōmaki (sejenis futomaki yang belum dipotong-potong). Sushi dimakan tanpa berhenti sambil menghadap ke arah mata angin tempat bersemayam dewa keberuntungan untuk tahun tersebut. Sushi dipegang dengan kedua belah tangan dan orang yang sedang makan dilarang berbicara sampai sushi habis dimakan.

Pedagang di kota Osaka yang ingin bisnisnya lancar konon memiliki tradisi makan sushi di hari setsubun. Kebiasaan ini konon sudah dimulai di akhir zaman Edo atau awal zaman Meiji. Di awal zaman Showa, iklan tradisi memakan sushi di hari setsubun (marukaburi zushi) mulai dipasang pedagang sushi di Osaka agar orang mau membeli sushi.

Seusai Perang Dunia II, tradisi makan sushi di hari setsubun sempat terhenti hingga tahun 1974. Pada tahun itu, pedagang nori di kota Osaka mengadakan lomba cepat-cepatan makan norimaki. Di tahun 1977, asosiasi pedagang nori Osaka kembali menghidupkan tradisi memakan sushi di hari setsubun dengan mengadakan acara promosi penjualan nori.

4. Umematsuri

Umematsuri biasa dirayakan tiap Februari. Bulan Februari merupakan saat yang paling dingin diantara bulan-bulan lainnya selama musim dingin berlangsung. Pada saat ini juga, tepatnya pada pertengahan bulan Februari bunga plum mulai bermekaran. Bunga plum merupakan satu-satunya bunga yang mekar pada musim dingin sehingga banyak orang yang menyukainya. Bunga plum hampir sama dengan bunga sakura namun ada yang membedakannya dengan bunga sakura. Perbedaan itu terletak pada kelopak dan putik.

PENUTUP

1. Saimatsu merupakan perayaan akhir tahun. Saimatsu juga merupakan masa orang-orang bisa minum minuman beralkohol sampai mabuk dengan tujuan untuk melupakan semua kesusahan yang telah dialami selama setahun yang sering disebut Bounenkai. Selain itu ada juga toshi no ichi (pasar) yang diadakan di berbagai kota.

2. Ganjitsu merupakan hari pertama tahun baru. Pada saat ini orang-orang menerima kartu tahun baru dari teman, kenalan dan pacar. Selainitu ada juga tradisi mengunjungi kuil atau biara.

3. Setsubun merupakan masa beralihnya musim dari musim salju ke musim semi yang terjadi pada tanggal 3 Februari. Pada malam harinya ada tradisi melempar kacang yang dilakukan di kuil atau biara dan di rumah. Hal ini dipercaya dapat mengundang hal yang baik dan untuk menghalau hal yang buruk.

4. Umematsuri merupakan akhir dari musim dingin dan merupakan waktu yang paling dingin selama musim dingin. Umematsuri terjadi tiap bulan Februari. Selama even ini berlangsung ada suatu kebiasaan untuk menikmati keindahan bunga plum sambil merasakan suasana musim semi yang hampir menjelang.

perayaan selama musim gugur

秋のカレンダー

(Dibuat untuk Memenuhi Tugas Nihon Jijou II)

 

 

OLEH

DWI ASIH

0902061004

II A

 

 

 

 

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG D3

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

SINGARAJA

2010

 

 

 

PENDAHULUAN

Jepang merupakan salah satu dari beberapa Negara yang memiliki empat musim. Namun diantara beberapa Negara tersebut hanya Jepang yang memiliki tradisi yang unik dan sangat menarik pada setiap adanya pergantian musim. Setiap pergantian musim selalu ada semacam perayaan (matsuri) yang berlangsung sejak awal hingga akhir musim. Saat salah satu dari empat musim yang ada di jepang berlangsung selalu saja ada hal-hal menarik untuk dinikmati dan diikuti. Salah satu musim yang akan saya bahas dalam makalah ini adalah musim gugur (aki). Pada musim ini juga ada beberapa festival atau perayaan, diantaranya Nihyaku tooka, Higan, Akimatsuri dan Shichi Go San.

PEMBAHASAN

1. Nihyaku Tooka (二百十日)

Nihyaku tooka merupakan masa setelah risshun (awal dimulainya musim semi). Nihyaku tooka yaitu hari ke-210 setelah risshun yang jatuh pada tanggal 1 atau 2 September.

Nihyaku tooka juga sering disebut musim angin topan karena pada saat ini ada banyak angin topan. Saat nihyaku tooka berlangsung orang-orang menjadi khawatir terutama para petani karena banyaknya angin topan mengancam pertumbuhan tanaman padi mereka.

Angin yang bertiup biasanya sangat keras dan besar sehingga seringkali menyebabkan kerusakan ladang dan sawah. Kerusakan ladang dan sawah tersebut tentunya berimbas pada hasil panen yang buruk. Selain itu topan ini juga menyebabkan korban jiwa dan kerusakan lain seperti kerusakan tanggul sehingga air meluap dan menggenangi desa dan kota.

2. Higan (彼岸)

Higan merupakan masa antara tiga hari dan tujuh hari pada shunbun no hi saat musim gugur. Dalam ajaran Buddha perayaan higan ini biasanya mengacu pada nirwana. Saat higan berlangsung biasanya ditetapkan sebagai hari libur resmi di Jepang. Hari libur ini biasanya dimanfaatkan untuk mengunjungi makam dan mendoakan nenek moyang atau leluhur.

Selama higan berlangsung kita bisa menikmati keindahan bunga Higanbana yang mekar tiap musim gugur. Higanbana adalah bunga yang indah biasanya berwarna putih atau merah darah namun tidak seperti bunga pada umumnya. Karena umbi dari bunga ini sangat beracun. Bunga ini tumbuh liar di pinggir jalan dan di dekat sawah.

3. Aki Matsuri (秋)

Dari bulan September-Oktober, setiap daerah di seluruh Jepang melaksanakan perayaan musim gugur. Perayaan ini dilaksanakan di kuil Shinto untuk berterimakasih pada dewa atas hasil panen pada musim gugur. Orang-orang merayakannya dengan mempersembahkan padi dan hasil bumi lainnya untuk kuil Shinto. Di halaman kuil tersebut, mereka pun menari sambil membawa usungan. Tarian tersebut pun mereka persembahkan untuk para dewa. Sementara di dalam rumah, orang-orang membuat berbagai masakan lezat dan merayakan festival tersebut dengan makan bersama.

4. Shichi Go San

Shichi Go San merupakan salah satu festival yang diperuntukkan bagi anak-anak yang berumur 7 tahun, 5 tahun dan 3 tahun, yaitu umur 3 tahun dan 5 tahun untuk anak laki-laki dan umur 3 tahun dan 7 tahun untuk anak perempuan. Tujuan dari diadakannya festival ini yaitu untuk merayakan kesehatan dan berdoa untuk keselamatan anak-anak. Saat perayaan ini anak-anak didandani dengan pakaian yang bagus kemudian dibawa ke kuil. Para orang tua mendoakan agar anaknya menjadi kuat jika anaknya laki-laki dan mendoakan agar anaknya menjadi cantik jika anaknya perempuan.

Festival ini biasanya diadakan tiap tanggal 15 November. Namun akhir-akhir ini perayaannya bisa dilakukan kapan saja asalkan masih berada pada bulan November. Karena pada perayaan bukan merupakan hari libur resmi sehingga pelaksanaannya pun tidak mutlak pada hari itu saja. Jadi jika orang tua tidak bekerja (libur) baru bisa mengantar anaknya untuk mengikuti festival Shichi Go San.

Pada saat ini anak-anak berziarah ke kuil Shinto untuk berterimakasih pada dewa karena sudah berumur 7, 5 dan 3 tahun. Umur 3 dan 5 tahun adalah batas umur bayi dan balita, sementara umur 7 tahun adalah batas umur anak dan remaja, yang dari sejak itu mereka harus dipersiapkan untuk menjadi orang dewasa. Pada saat perayaan ini para orang tua juga membelikan permen seribu tahun yang lebih dikenal dengan chitose ame. Dengan membelikan permen tersebut diharapkan anak-anak akan selalu sehat dan panjang umur.

Sejak zaman kuno, anak-anak yang berusia tiga tahun (baik laki-laki maupun perempuan) rambutnya dicukur dan harus menjalani upacara kamioki. Selain itu ada juga upacara hakama-gi yang merupakan ritual mengenakan hakama untuk pertama kalinya saat anak berusia lima tahun. Kemudian untuk anak perempuan yang berusia tujuh tahun ada semacam upacara yaitu obitoki. Obitoki merupakan ritual penggantian sabuk kimono kecil dengan obi yang lebih besar.

Awal mula penetapan tanggal diadakannya perayaan ini yaitu adanya anggapan bahwa tanggal 15 merupakan hari baik di zaman kuno, karena pada saat itu Shogun Tokugawa kelima, Tsunayoshi, melakukan upacara untuk anaknya Tokumatsu. Di daerah Kansai ada ritual yang mirip dengan Shichi Go San dan juga berhubungan dengan kematangan anak yang biasa disebut mairi juusan. Mairi juusan adalah kunjungan dan ibadah yang dilakukan oleh anak yang berusia tigabelas tahun ke sebuah kuil yang didedikasikan untuk Kokūzō Bodhisattva. Perayaan ini juga dilakukan oleh masyarakat kecil di desa-desa. Sejak zaman Taisho, perayaan ini telah menyebar ke seluruh Jepang dan dilakukan secara besar-besaran dan elegan. Di Tokyo, orang Jepang yang mengunjungi Meiji Jingu dan kuil-kuil terkenal lainnya.

Tradisi menjual permen seribu tahun atau chitose ame pertama kali dilakukan di Kanda Shrine dan di Asakusa selanjutnya terus menyebar ke tempat lain hingga akhirnya dilakukan di seluruh Jepang.

PENUTUP

1) Nihyaku tooka merupakan masa setelah risshun (awal dimulainya musim semi). Ini terjadi setelah hari ke-210 dihitung dari awal terjadinya musim semi yang jatuh pada tanggal 1 atau 2 September. Masa ini juga sering disebut musim angin topan karena ada banyak angin topan pada masa ini.

2) Higan merupakan masa antara tiga hari dan tujuh hari pada shunbun no hi saat musim gugur. Pada saat ini dimanfaatkan untuk berziarah ke makam dengan membawa bunga, kemenyan dan barang kesukaan almarhum.

3) Akimatsuri merupakan festival yang diadakan untuk berterima kasih kepada dewa atas panen yang telah diperoleh. Orang-orang mempersembahkan padi kepada dewa atau mempersembahkan di depan kuil.

4) Shichi Go San merupakan festival yang diperuntukkan bagi anak-anak yang berusia 7 tahun, 5 tahun dan 3 tahun (untuk anak laki-laki yang berusia 3 tahun atau 5 tahun, sedangkan anak perempuan berusia 3 tahun dan tujuh tahun). Tujuan dari perayaan ini yaitu agar anak-anak menjadi kuat dan sehat bagi anak laki-laki dan menjadi cantik bagi anak perempuan.

Previous Older Entries