perayaan selama musim dingin

 

冬のカレンダー

(Dibuat untuk Memenuhi Tugas Nihon Jijou II)

 

DWI ASIH

0902061004

II A

 

 

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG D3

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

SINGARAJA

2010

 

 

PENDAHULUAN

Jepang merupakan salah satu Negara yang memiliki empat musim. Meskipun perubahan musim yang terjadi relatif sama namun perubahan musim di Jepang terasa berbeda dengan perubahan musim di Negara lain yang juga memiliki empat musim. Hal ini disebabkan adanya perayaan atau festival (matsuri) yang dilakukan oleh orang-orang Jepang pada saat terjadi perubahan hingga berlangsungnya suatu musim. Perayaan yang diadakan pada tiap musimnya tidaklah sama, karena tiap musim memiliki ciri dan keunikan tersendiri hingga tak jarang banyak wisatawan yang ingin menyaksikan secara langsung perayaan tersebut. Begitu juga dengan musim dingin ada juga perayaannya. Perayaan musim dingin tersebut antara lain Saimatsu, Ganjitsu, Setsubun dan Umematsuri.

PEMBAHASAN

1. Saimatsu

Saimatsu merupakan salah satu perayaan yang dilakukan untuk memperingati akhir tahun (festival tutup tahun). Saat ini biasanya dimanfaatkan untuk berbelanja barang-barang murah. Karena pada saat saimatsu berlangsung biasanya banyak toko-toko yang menjual barang-barang dalam jumlah yang besar dan diskon secara besar-besaran. Atau dengan kata lain mengadakan obral khusus akhir tahun.

Saimatsu juga merupakan masa berlangsungnya Bounenkai, yang merupakan suatu kebiasaan orang-orang Jepang yang berpesta minum minuman beralkohol sampai mabuk. Tujuan Bounenkai adalah untuk melupakan kesusahan yang telah menimpa selama setahun yang telah lalu. Pada masa Bounenkai kereta listrik terakhir dipenuhi oleh orang-orang mabuk.

Saat saimatsu berlangsung ada juga toshi no ichi (pasar) yang diadakan di berbagai kota. Seperti di Tokyo misalnya, tepatnya di Asakusa selalu diadakan hagoita ichi yang berlangsung tiap tanggal 14 desember sampai dengan 18 desember. Hagoita merupakan salah satu permainan yang dimainkan selama tahun baru. Permainan hagoita ini menyerupai permainan badminton. Harga hagoita ini sangat mahal, namun banyak orang yang membelinya karena mereka percaya bahwa permainan tersebut akan membawa nasib baik.

2. Ganjitsu (元日)

Ganjitsu merupakan awal dimulainya tahun baru yaitu pada tanggal 1 januari (dini hari), sedangkan pada pagi harinya sering disebut dengan istilah (元旦) yang artinya pagi pertama di awal tahun.

Di Jepang, tahun baru dirayakan pada tanggal 1 Januari dan berlangsung hingga tanggal 3 Januari yang biasa sanganichi (三が日). Masa ini juga sering disebut shōgatsu (正月,). Awalnya istilah shōgatsu digunakan untuk menyebutkan bulan pertama dalam setahun, namun secara umum sekarang istilah tersebut hanya digunakan untuk menyebut hari pertama hingga hari ketiga di awal tahun. Perayaan ini berlaku secara umum (bersamaan) di seluruh Jepang. Meskipun begitu ada juga daerah yang melangsungkan perayaannya berbeda dengan waktu yang umum digunakan. Di daerah kanto misalnya, perayaannya berlangsung sejak tanggal 1 Januari hingga 7 Januari dan lebih dikenal dengan istilah matsu no uchi (松の内), sedangkan di daerah Kansai berlangsung hingga tanggal 15 Januari dan lebih dikenal dengan istilah koshogatsu (小正月). Selain itu ada juga istilah hatsuka shōgatsu (二十日正月) yang lebih dikenal dengan istilah honeshōgatsu (骨正月) yang berarti tahun baru tulang. Pada masa ini ikan masakan tahun baru sudah habis dimakan sampai ke tulang-tulangnya.

Kegiatan menyambut tahun baru sudah dimulai sejak dua atau tiga minggu sebelum pergantian tahun. Di daerah Kanto, hari persiapan tahun baru yang disebut o-koto hajime (お事始め) jatuh pada 8 Desember, sedangkan di daerah Kansai dimulai pada 13 Desember. hari libur resmi di Jepang ditetapkan sejak tanggal 1 Januari, tapi kantor pemerintah dan perusahaan swasta tutup sejak tanggal 29 Desember hingga 3 Januari. Bank dan lembaga perbankan tutup dari tanggal 31 desenber hingga 3 Januari, kecuali sebagian ATM yang masih melayani transaksi. Sampai tahun 1970-an, sebagian besar toko dan pedagang eceran di daerah Kanto tutup hingga tanggal 5 Januari atau 7 januari. Perubahan gaya hidup dan persaingan dari toko yang buka 24 jam membuat kebiasaan libur berlama-lama ditinggalkan. Mulai tahun 1990-an, hampir semua mall dan pertokoan hanya tutup tanggal 1 Januari dan mulai buka keesokan harinya tanggal 2 Januari, tapi biasanya dengan jam buka yang diperpendek. Hari pertama penjualan barang (hatsu-uri) di pusat pertokoan dimeriahkan dengan penjualan fukubukuro (kantong keberuntungan). Penjualan barang di semua mal dan pertokoan sudah normal kembali sekitar tanggal 4 Januari.

Pada zaman dulu, tahun baru di Jepang dirayakan pada awal musim semi bertepatan dengan Tahun baru Imlek, Tahun baru Korea dan Tahun baru Vietnam. Hal ini dikarenakan kalender Jepang masih berdasarkan kalender Tionghoa. Namun sejak tahun 1873, tahun baru mulai dirayakan pada tanggal 1 Januari karena sejak saat itu pemerintah Jepang mulai menerapkan kalender Gregorian.

Pada tanggal 31 desember atau pada malam tahun baru biasanya disebut ōmisoka (大晦日). Pada malam tahun baru ini ada tradisi memakan soba yang disebut toshikoshi soba (年越しそば ). Stasiun televisi di Jepang, NHK, mempunyai tradisi menayangkan acara Kohaku Uta Gassen, berupa kompetisi lagu antar penyanyi terkenal yang dibagi menjadi kubu merah dan kubu putih. Menjelang pukul 12 malam, genta yang terdapat di berbagai kuil agama Buddha di Jepang dibunyikan. Tradisi memukul genta menjelang pergantian tahun disebut joya no kane (除夜の鐘). Genta dibunyikan sebanyak 108 kali sebagai perlambang 108 jenis nafsu jahat manusia yang harus dihalau.

Setelah itu pada pagi harinya ada semacam tradisi berupa kunjungan pertama kali ke kuil pada awal tahun baru. Pada saat ini di depan kuil-kuil besar sangat ramai karena mereka menunggu dibukanya kuil. Doa yang disampaikan biasanya berupa harapan agar sehat dan selamat sepanjang tahun. Kebiasaan tersebut sering disebut hatsumode.

Masakan istimewa yang dimakan di tahun baru adalah Osechi (sup zoni yang terbuat dari kuah dashi berisi mocha dan sayuran). Berbagai macam lauk masakan osechi kotak kayu bersusun yang disebut jūbako (重箱). Beberapa swalayan besar sejak beberapa minggu sebelum tahun baru juga sudah membuka pemesanan osechi. Lauk pada masakan osechi biasanya sangat manis atau sangat asin, seperti: kuromame, tatsukuri (gomame), konbumaki, kamaboko, kurikinton, kazunoko dan datemaki. Makanan tahun baru diharapkan bisa tahan lama, karena tahun baru merupakan kesempatan libur memasak bagi ibu rumah tangga di Jepang. Selain Osechi ada juga olahan dari ikan. Ikan yang dimasak di tiap daerah berbeda, untuk daerah Jepang bagian timur biasanya menggunakan ikan salem sedangkan di Jepang bagian barat menggunakan ikan sunglir (buri). Beberapa daerah juga memiliki masakan khas yang tidak bisa dinikmati di tempat lain. Seperti di daerah kansai misalnya, ada masakan khas berupa ikan cod kering (bōdara) yang dimasak dengan gula pasir dan shoyu.

Penutupan perayaan tahun baru ditandai dengan memakan bubur nanakusa yang dimasak dengan 7 jenis sayuran dan rumput. Biasanya orang-orang memakan bubur ini sejak tanggal 7 hingga 15 Januari. Tujuannya agar perut bisa beristirahat setelah dipenuhi makanan tahun baru. Acara menumbuk mochi (mochitsuki) merupakan salah satu tradisi menjelang tahun baru. Ketan yang sudah ditanak dimasukkan ke dalam lesung dan ditumbuk dengan alu. Satu orang bertugas menumbuk, sedangkan seorang lagi bertugas membolak-balik beras ketan dengan tangan yang sudah dibasahi air. Beras ketan ditumbuk hingga lengket dan membentuk gumpalan besar mochi berwarna putih. Selain dimakan sebagai pengganti nasi selama tahun baru, mochi juga dibuat hiasan tahun baru yang disebut kagami mochi. Secara tradisional, kagami mochi dibuat dengan cara menyusun dua buah mochi berukuran bundar, ditambah sebuah jeruk di atasnya sebagai hiasan.

Orang Jepang mempunyai tradisi saling mengirim kartu pos nengajō (年賀状) yang akan tiba persis pada tanggal 1 Januari. Kartu pos ucapan tahun baru dijamin sampai ke alamat yang dituju pada tanggal 1 Januari, asalkan dikirim tidak melewati jangka waktu penerimaan yang ditetapkan kantor pos. Penerimaan kartu pos biasanya dimulai pertengahan Desember hingga beberapa hari terakhir sebelum akhir tahun. Kantor pos membutuhkan pegawai ekstra yang direkrut dari kalangan pelajar, agar semua kartu pos bisa tiba tepat pada tanggal 1 Januari.

Sebagai penghormatan terhadap orang yang meninggal, anggota keluarga yang baru ditinggalkan tidak merayakan tahun baru dan tidak mengirim kartu pos tahun baru. Sebagai gantinya, anggota keluarga yang baru ditimpa musibah mengirim kartu pos berisi pemberitahuan tidak bisa mengirim kartu pos ucapan tahun baru.

Setiap tahunnya, Kantor Pos Jepang memiliki tradisi mencetak kartu pos dengan tema yang berbeda-beda. Kartu pos dihiasi dengan lukisan tempat terkenal di Jepang dan gambar binatang shio untuk tahun yang baru. Kartu pos tahun baru yang diterbitkan kantor pos juga memiliki nomor undian yang diundi di awal tahun. Penerima kartu pos yang beruntung bisa memenangkan berbagai hadiah berupa barang. Selain di kantor pos, kartu pos ucapan tahun baru juga bisa dibeli di berbagai tempat. Kartu pos yang dijual di toko buku memiliki pilihan gambar yang lebih banyak, tapi sering masih perlu ditempeli perangko.

Kartu pos ucapan tahun baru bisa ditulisi sendiri dengan berbagai pesan dan ucapan. Gambar binatang atau kalimat ucapan standar bisa ditambahkan dengan menggunakan stempel karet beraneka warna yang dijual di toko buku atau stempel yang disediakan di kantor pos. Kartu pos ucapan tahun baru sering digunakan untuk memamerkan kemampuan menulis indah bagi pengirim yang pandai menulis kaligrafi. Pemilik komputer pribadi bisa menggunakan perangkat lunak khusus untuk mencetak kartu pos. Bagi orang yang memiliki banyak kenalan dan relasi, kartu pos biasanya sudah ditulisi sejak awal bulan Desember. Berbagai ucapan selamat tahun baru yang umum digunakan:

  • Kotoshi mo yoroshiku onegai shimasu (今年もよろしく お願いします)
  • Akemashite omedetō gozaimasu (あけましておめで とうございます)
  • Kin-ga shinnen (謹賀新年)

Orang Jepang mempunyai tradisi memberikan angpao yang dikenal dengan sebutan otoshidama (お年玉). Sewaktu memberikan otoshidama untuk anak-anak, sejumlah uang kertas yang masih baru atau uang logam dimasukkan ke amplop kecil bernama pochibukuro (otoshidama-bukuro) yang berhiaskan aneka gambar kesukaan anak-anak. Otoshidama sangat ditunggu-tunggu anak-anak di Jepang, terutama bila memiliki paman atau bibi yang murah hati.

Perayaan tahun baru juga dimeriahkan dengan menulis aksara kanji pertama untuk tahun tersebut. Tradisi menulis aksara kanji yang dilakukan tanggal 2 Januari disebut kakizome (kaligrafi pertama). Selain itu ada juga berbagai permainan yang dimainkan selama tahun baru, seperti: permainan fukuwarai (meletakkan gambar bagian-bagian wajah, seperti hidung, alis mata, dan mulut pada tempat yang tepat dengan mata tertutup), hanetsuki (bulutangkis tradisional), menaikkan layang-layang (takoage), gasing (koma), bermain dadu (sugoroku), dan permainan memungut kartu yang disebut karuta.

3. Setsubun (節分)

Setsubun biasanya terjadi pada tanggal 3 Januari. Setsubun merupakan nama perayaan yang digunakan di jepang untuk hari yang berlangsung sebelum hari pertama pada setiap musimnya. Ada empat istilah yang digunakan untuk menyebutkan istilah setsubun pada tiap musim, yaitu risshun, rikka, risshuu, dan ritto. Namun sekarang istilah setsubun hanya digunakan untuk hari sebelum musim semi saja (risshun).

Pada zaman dulu, perayaan setsubun adalah perayaan tahunan yang diadakan di istana kaisar. Pada perayaan itu ada berbagai macam boneka (biasanya berbentuk anak-anak dan sapi) dari tanah liat yang sudah diberi warna dan dipajang di berbagai pintu gerbang dalam lingkungan istana.

Tradisi mengusir Oni yang biasa dilakukan saat setsubun berasal dari upacara Tsuina yang sudah dilakukan sejak zaman Heian. Di zaman modern, berbagai tradisi kuno setsubun lenyap digantikan tradisi melempar kacang dan menegakkan kepala ikan sarden yang ditusuk dengan ranting pohon hiiragi di pintu masuk rumah pada saat senja di hari setsubun. Di beberapa daerah di Jepang, orang menggantung kepala ikan sardin dan ranting pohon hiiragi di atas pintu rumah. Tradisi tersebut dilakukan untuk mengusir oni yang dipercaya lahir pada hari setsubun.

Kacang kedelai yang sudah digongseng matang dilempar-lemparkan ke arah oni. Tradisi melempar kacang merupakan perlambang keinginan bebas dari penyakit dan selalu sehat sepanjang tahun. Oni yang terkena lemparan kacang konon bakal kabur karena kesakitan. Kacang dilempar-lemparkan sambil mengucap mantera “Oni wa soto, fuku wa uchi” (Oni di luar, keberuntungan ke dalam). Di beberapa daerah yang memiliki kuil yang dipercaya ditinggali oni, mantera dibalik menjadi “Oni wa uchi, fuku wa soto (Oni ke dalam, keberuntungan ke luar),” atau kedua belah pihak diminta masuk ke dalam. Di rumah yang ditinggali orang yang memiliki nama keluarga dengan aksara kanji “Oni” (鬼) seperti “Onizuka” atau “Kitō,” mantera juga tidak mengusir “Oni” ke luar. Kacang kedelai juga dimakan setelah dihitung jumlahnya agar sama dengan usia orang yang memakan. Tradisi setsubun merupakan perpaduan upacara mengusir arwah jahat di istana yang berasal dari tradisi Tiongkok dengan upacara Mamemaki (melempar kacang) yang bertujuan serupa di kuil agama Buddha dan Shinto. Kacang yang dilempar-lemparkan biasanya adalah kacang kedelai, tapi sering diganti dengan kacang tanah sesuai dengan selera orang zaman sekarang.

Beberapa pekan menjelang hari setsubun, toko-toko atau swalayan mulai menjual kacang keberuntungan (fukumame) di tempat khusus yang gampang dilihat pembeli. Kacang dijual dengan hadiah topeng bergambar Oni untuk dipakai sang ayah atau orang lain di rumah yang berperan sebagai oni, sekaligus sasaran lemparan kacang anak-anak di rumah.

Di sekolah-sekolah dasar dilakukan upacara melempar kacang yang dilakukan murid berusia 12 tahun, karena memiliki shio yang sama dengan shio untuk tahun yang berjalan. Kuil agama Buddha dan Shinto yang bekerjasama dengan taman kanak-kanak dan tempat penitipan anak mengadakan upacara melempar kacang oleh chigo (anak-anak kecil yang dirias) dan miko (pelayan wanita). Kuil besar mengadakan acara melempar kacang yang dilakukan atlet dan orang terkenal. Bungkusan kacang keberuntungan dilemparkan ke tengah-tengah khalayak ramai untuk ditangkap atau dipungut.

Di daerah Kansai terdapat tradisi makan sushi yang disebut Ehōmaki (sejenis futomaki yang belum dipotong-potong). Sushi dimakan tanpa berhenti sambil menghadap ke arah mata angin tempat bersemayam dewa keberuntungan untuk tahun tersebut. Sushi dipegang dengan kedua belah tangan dan orang yang sedang makan dilarang berbicara sampai sushi habis dimakan.

Pedagang di kota Osaka yang ingin bisnisnya lancar konon memiliki tradisi makan sushi di hari setsubun. Kebiasaan ini konon sudah dimulai di akhir zaman Edo atau awal zaman Meiji. Di awal zaman Showa, iklan tradisi memakan sushi di hari setsubun (marukaburi zushi) mulai dipasang pedagang sushi di Osaka agar orang mau membeli sushi.

Seusai Perang Dunia II, tradisi makan sushi di hari setsubun sempat terhenti hingga tahun 1974. Pada tahun itu, pedagang nori di kota Osaka mengadakan lomba cepat-cepatan makan norimaki. Di tahun 1977, asosiasi pedagang nori Osaka kembali menghidupkan tradisi memakan sushi di hari setsubun dengan mengadakan acara promosi penjualan nori.

4. Umematsuri

Umematsuri biasa dirayakan tiap Februari. Bulan Februari merupakan saat yang paling dingin diantara bulan-bulan lainnya selama musim dingin berlangsung. Pada saat ini juga, tepatnya pada pertengahan bulan Februari bunga plum mulai bermekaran. Bunga plum merupakan satu-satunya bunga yang mekar pada musim dingin sehingga banyak orang yang menyukainya. Bunga plum hampir sama dengan bunga sakura namun ada yang membedakannya dengan bunga sakura. Perbedaan itu terletak pada kelopak dan putik.

PENUTUP

1. Saimatsu merupakan perayaan akhir tahun. Saimatsu juga merupakan masa orang-orang bisa minum minuman beralkohol sampai mabuk dengan tujuan untuk melupakan semua kesusahan yang telah dialami selama setahun yang sering disebut Bounenkai. Selain itu ada juga toshi no ichi (pasar) yang diadakan di berbagai kota.

2. Ganjitsu merupakan hari pertama tahun baru. Pada saat ini orang-orang menerima kartu tahun baru dari teman, kenalan dan pacar. Selainitu ada juga tradisi mengunjungi kuil atau biara.

3. Setsubun merupakan masa beralihnya musim dari musim salju ke musim semi yang terjadi pada tanggal 3 Februari. Pada malam harinya ada tradisi melempar kacang yang dilakukan di kuil atau biara dan di rumah. Hal ini dipercaya dapat mengundang hal yang baik dan untuk menghalau hal yang buruk.

4. Umematsuri merupakan akhir dari musim dingin dan merupakan waktu yang paling dingin selama musim dingin. Umematsuri terjadi tiap bulan Februari. Selama even ini berlangsung ada suatu kebiasaan untuk menikmati keindahan bunga plum sambil merasakan suasana musim semi yang hampir menjelang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: