perayaan selama musim semi

 

春のカレンダー

(Dibuat untuk Memenuhi Tugas Nihon Jijou II)

 

 

 

OLEH :

DWI ASIH

0902061004

II A

 

 

 

 

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG D3

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA

SINGARAJA

2010

 

 


 

PENDAHULUAN

Jepang merupakan salah satu Negara yang memiliki empat musim dengan berbagai perayaan (matsuri) yang berbeda dan memiliki ciri khas tersendiri pada masing-masing musim. Hal inilah yang membedakan Jepang dengan Negara yang mempunyai empat musim lainnya. Seperti perayaan pada musim semi misalnya. Saat musim semi ada berbagai perayaan yang diadakan di Jepang. Matsuri tersebut antara lain Hinamatsuri, Shubun no hi, Hanami dan Kodomo no hi. Masing-masing perayaan memiliki sejarah dan keunikan tersendiri. Oleh karena itu saya akan membahas matsuri tersebut pada pembahasan.

PEMBAHASAN

1. Hinamatsuri (雛祭り)

Hinamatsuri adalah salah satu festival yang diadakan tiap musim semi (haru) di Jepang. Festival disebut juga sebagai festival pembuka musim semi karena Hinamatsuri merupakan festival yang pertama kali diadakan pada musim semi yaitu pada tanggal 3 Maret.

Perayaan Hinamatsuri bertujuan untuk mendoakan anak perempuan agar tumbuh sehat. Oleh karena itu tiap keluarga yang mempunyai anak perempuan ikut merayakan festival ini dengan memajang satu set boneka yang mengenakan kimono zaman Heian dan menggambarkan upacara perkawinan tradisional di Jepang. Perayaan Hinamatsuri disebut juga festival boneka atau festival anak perempuan. Hal ini bermula dari kebiasaan para putri bangsawan dalam bermain, yaitu memainkan boneka putri (hiina bi).

a) Susunan boneka

Boneka dipajang di atas panggung bertingkat (dankazari) yang dilapisi selimut tebal warna merah (hi-mōsen)

  • Tangga teratas, deretan teratas diisi oleh dua boneka yang merupakan simbol kaisar (o-dairi-sama) dan permaisuri (o-hina-sama). Peletakan urutan kanan atau kiri baik untuk kaisar maupun permaisuri di wilayah Kansai dan Kanto berbeda, namun untuk setiap anak tangga berikutnya susunan bonekanya selalu sama.
  • Tangga kedua, Boneka yang dipajang pada tangga kedua yaitu boneka puteri istana yang berjumlah 3 orang (san-nin kanojo) lengkap dengan peralatan minum sake. Boneka putri yang diletakkan di tengah membawa mangkuk sake (sakazuki), sedangkan dua putri lainnya masing-masing membawa poci sake (kuwae no chōshi) dan wadah sake yang disebut (nagae no chōshi).
  • Tangga ketigaLima boneka pemusik pria (go-nin bayashi) berada di tangga ketiga. Semuanya membawa alat musik seperti taiko, okawa, kotsuzumi dan seruling, kecuali penyanyi hanya membawa kipas lipat.
  • Tangga keempat, dua boneka menteri (daijin) yang terdiri dari Menteri Kanan (Udaijin) dan Menteri Kiri (Sadaijin) berada di tangga ke-4.
  • Tangga kelima, pada tangga kelima diletakkan tiga boneka pesuruh pria (shichō) yang masing-masing membawa bungkusan berisi topi (daigasa).

b) Hidangan

selain satu set boneka yang dipajang di rumah ada juga makanan yang dibuat khusus untuk anak perempuan yang merayakan Hinamatsuri. Sajian tersebut antara lain kue hishimochi, kue hikigiri, makanan ringan hina arare, sup bening dari kaldu ikan tai atau kerang (hamaguri ), serta chirashizushi. Selain makanan, minumannya pun juga dibuat khusus untuk hari itu seperti, sake putih (shirozake) yang dibuat dari fermentasi beras ketan dengan mirin atau shochu, dan koji. Selain sake putih ada juga sake manis (amazake) yang dibuat dari ampas sake (sakekasu) yang diencerkan dengan air dan dimasak di atas api.

c) Sejarah

Berdasarkan kalender lunisolar, hari ke-3 bulan ke-3 adalah momo no sekku (perayaan bunga persik), karena bertepatan dengan mekarnya bunga persik. Oleh karena itu Hinamatsuri dirayakan tiap hari ke-3 bulan ke-3. Namun perayaan itu berubah ketika kalender Gregorian mulai digunakan di Jepang pada tanggal 1 Januari 1873. Sejak saat itu perayaan Hinamatsuri berubah menjadi tanggal 3 Maret. Meskipun demikian, sebagian orang masih ada yang lebih memilih perhitungan kalender lunisolar saat merayakan Hinamatsuri (sekitar bulan April pada kalender Gregorian)

Sekitar abad ke-8 ada kebiasaan bermain boneka di kalangan anak perempuan bangsawan istana pada zaman Heian. Biasanya boneka yang dimainkan lengkap dengan rumahnya yang berbentuk istana. Kemudian permainan tersebut dikenal dengan hina asobi. Faktanya, hina asobi adalah sebuah permainan belaka dan bukan merupaka suatu ritual. Meskipun begitu, sejak zaman Edo yakni sekitar abad ke-19, hina asobi mulai dikaitkan dengan perayaan musim semi. Seperti perayaan musim lainnya yang biasanya disebut matsuri, sehingga hina asobi diubah menjadi Hinamatsuri dan perayaannya pun tidak hanya di kalangan istana saja melainkan meluas di kalangan rakyat. Orang Jepang di zaman Edo terus mempertahankan cara memajang boneka seperti tradisi yang diwariskan turun temurun sejak zaman Heian. Boneka dipercaya memiliki kekuatan untuk menyerap roh-roh jahat ke dalam tubuh boneka, dan karena itu menyelamatkan sang pemilik dari segala hal-hal yang berbahaya atau sial. Asal-usul konsep ini adalah hinanagashi (“menghanyutkan boneka”). Boneka diletakkan di wadah berbentuk sampan, Lalu dihanyutkan dalam perjalanan menyusuri sungai hingga akhirnya sampai ke laut dengan membawa serta roh-roh jahat. Kalangan bangsawan dan samurai pada zaman Edo menghargai boneka Hinamatsuri sebagai modal penting untuk wanita yang ingin menikah sekaligus sebagai pembawa keberuntungan. Para orang tua berlomba-lomba membelikan boneka yang terbaik dan termahal bagi putrinya yang ingin menjadi pengantin Sebagai lambang status dan kemakmuran.

Boneka yang digunakan pada awal zaman Edo disebut tachibina (boneka berdiri) karena boneka berada dalam posisi tegak, dan bukan duduk seperti yang sering digunakan dalam perayaan saat ini. Asal-usul tachibina adalah boneka berbentuk manusia (katashiro) yang dibuat ahli onmyodo untuk menghalau nasib sial. Boneka dalam posisi duduk (suwaribina) mulai dikenal sejak zaman Kan’ei. Pada waktu itu, satu set boneka hanya terdiri sepasang boneka yang keduanya bisa dalam posisi duduk maupun berdiri. Seiring dengan perkembangan zaman, boneka menjadi semakin rumit dan mewah. Pada zaman Genroku, orang mengenal boneka genrokubina (boneka zaman Genroku) yang dipakaikan kimono dua belas lapis (jūnihitoe). Pada zaman Kyoho, orang mengenal boneka ukuran besar yang disebut kyōhōbina (boneka zaman Kyōhō). Perkembangan lainnya adalah pemakaian tirai lipat (byōbu) berwarna emas sebagai latar belakang genrokubina dan kyōhōbina sewaktu dipajang. Keshogunan Tokugawa pada zaman Kyōhō berusaha membatasi kemewahan di kalangan rakyat. Boneka berukuran besar dan mewah ikut menjadi sasaran pelarangan barang mewah oleh keshogunan. Sebagai usaha menghindari peraturan keshogunan, rakyat membuat boneka berukuran mini yang disebut keshibina (boneka ukuran biji poppy), dan hanya berukuran di bawah 10 cm. Namun keshibina dibuat dengan sangat mendetil, dan kembali berakhir sebagai boneka mewah. Sebelum zaman Edo berakhir, orang mengenal boneka yang disebut yūsokubina (boneka pejabat resmi istana). Boneka dipakaikan kimono yang merupakan replika seragam pejabat resmi istana. Prototipe boneka Hinamatsuri yang digunakan di Jepang sekarang adalah kokinbina (translasi literal: boneka zaman dulu). Perintis kokinbina adalah Hara Shūgetsu yang membuat boneka seakurat mungkin berdasarkan riset literatur sejarah. Boneka yang dihasilkan sangat realistik, termasuk penggunaan gelas untuk mata boneka. Mulai sekitar akhir zaman Edo hingga awal zaman Meiji, boneka Hinamatsuri yang mulanya hanya terdiri dari sepasang kaisar dan permaisuri berkembang menjadi satu set boneka lengkap berikut boneka puteri istana, pemusik, serta miniatur istana, perabot rumah tangga dan dapur. Sejak itu pula, boneka dipajang di atas dankazari (tangga untuk memajang), dan orang di seluruh Jepang mulai merayakan hinamatsuri secara besar-besaran.

1. Shubun no hi (春分の日)

Shubun no hi atau hari ekuinoks musim semi di jepang merupakan salah satu hari libur resmi yang biasanya jatuh pada tanggal 20 Maret atau 21 Maret ketika terjadi ekuinoks vernal atau titik awal musim semi. Atau bisa dikatakan shubun no hi merupakan peralihan dari musim salju ke musim semi. Saat itu rentang waktu siang sama panjangnya dengan waktu malam. Hari libur ini ditetapkan dengan undang-undang hari libur Jepang (Shukujitsu-hō) tahun 1948 untuk “berterima kasih kepada alam dan mencintai makhluk hidup.”

a) Tradisi

Dalam setahun, periode Higan terjadi dua kali yaitu pada musim semi dan musim gugur. Waktu ini biasanya dimanfaatkan untuk membersihkan makam dan mempersembahkan kue botamochi di altar keluarga. Shubun no hi merupakan saat untuk memulai upacara Shunki Higan-e (higan musim semi) bagi penganut agama Buddha di Jepang. Upacara tersebut berlangsung selama seminggu yang bertujuan untuk mendoakan arwah leluhur. Hingga tahun 1947, hari libur ini disebut Shunki kōrei-sai (春季皇霊) yaitu perayaan musim semi arwah leluhur keluarga kekaisaran.

b) Penentuan tanggal

Penentuan tanggal ekuinoks dilakukan oleh rapat kabinet yang diadakan pada tanggal 1 Februari tahun sebelumnya. Penentuan tanggal tersebut didasarkan pada tabel almanak (Rekishō Nempyō) yang merupakan pamphlet terbitan badan observasi Astronomi Jepang. Hasil rapat diumumkan dalam lembaran negara yang disebut kanpo. Menurut perhitungan astronomi yang berlaku sekarang hingga tahun 2025, ekuinoks vernal selalu jatuh tanggal 21 maret, tapi jatuh tanggal 20 Maret pada tahun kabisat dan tahun sesudah tahun kabisat.

2. Hanami (花見)

Secara harfiah hanami berasal dari kata “hana” yang berarti bunga, dan “mi” yang berarti melihat. Jadi hanami berarti melihat bunga atau dengan kata lain dapat dikatakan menikmati keindahan bunga sakura yang sedang mekar pada musim semi.

Even ini yang sangat dinanti oleh orang-orang Jepang saat musim semi tiba. Hanami biasanya dilakukan di taman terbuka secara berkelompok baik bersama keluarga, teman dan sebagainya. Mereka duduk beralaskan tikar di bawah pohon sakura. Biasanya mereka juga membawa “obento” untuk dimakan sambil menikmati keindahan bunga sakura yang sedang bermekaran. Tidak hanya itu, bahkan ada juga yang melakukannya sambil berkaraoke.

Mereka sangat menikmati saat-saat seperti ini. Saat mereka dapat berkumpul bersama keluarga, teman atau pacar sambil menikmati keindahan bunga sakura. Bahkan ada pula yang rela mengikuti Hanami dari satu kota ke kota lain. Karena momen ini hanya berlangsung selama beberapa hari saja.

3. Kodomo no hi (こどもの日)

Kodomo no hi merupakan hari anak-anak yang disebut juga tango no sekku (perayaan untuk anak laki-laki). Kodomo no hi ini merupakan salah satu perayaan musim semi dan merupakan salah satu hari libur resmi diJjepang yang ditetapkan tiap tanggal 5 mei dan merupakan serangkaian liburan akhir bulan April dan awal bulan Mei. Hari libur tersebut dikenal dengan istilah Golden Week (Minggu Emas). Pengertian istilah Golden Week yaitu jika setelah hari libur berakhir berlanjut dengan libur akhir pekan sehingga jumlah hari libur bertambah.

Sejak tahun 1948 sudah ada peringatan Hari Anak-anak yang telah ditetapkan menjadi hari libur Jepang (Shukujitsu-hō) dengan tujuan untuk menghormati kepribadian anak, merencanakan kebahagiaan anak, dan sebagai ungkapan terima kasih kepada ibu.

Jika pada perayaan Hinamastsuri masing-masing keluarga (yang mempunyai anak perempuan) memajang boneka, lain halnya dengan perayaan kodomo no hi. Pada perayaan kodomo no hi di setiap rumah menaikkan koinobori. Koinobori adalah kain atau kertas dengan berbagai corak yang berisi gambar dan digantungkan pada ujung tali atau bamboo yang membentang tinggi.

a) Asal-usul

Berdasarkan tradisi kuno Tiongkok yang berkaitan dengan musim semi di Jepang perayaan kodomo no hi dikenal dengan sekku. Sejak zaman dulu, tiap bulan ke-5 kalender Tionghoa biasanya diisi dengan kegiatan mengusir ro-roh jahat. Kemudian pada tanggal 5 bulan 5 dikenal dengan Tango no sekku dan merupakan hari untuk merayakan kesehatan dan pertumbuhan untuk anak laki-laki.

Pada awalnya kodomo no hi merupakan perayaan yang khusus untuk anak laki-laki sehingga perayaannya pun identik dengan semua hal yang ada hubungannya dengan anak laki-laki. Namun itu tak berlaku lagi untuk saat ini karena masa kini perayaan kodomo no hi tidak hanya untuk anak laki-laki saja melainkan untuk anak perempuan juga atau bisa dikatakan untuk semua anak-anak pada umumnya.

b) Tradisi

Ada tradisi memajang replika yoroi (pakaian ksatria zaman dulu) dan kabuto (helm samurai) selama perayaan kodomo no hi berlangsung. Keluarga yang memiliki anak laki-laki juga memasang koinobori (bendera berbentuk ikan mas). Pada bendera ikan mas yang paling besar digambarkan anak laki-laki super kuat Kintaro yang sedang menunggang ikan emas. Kabuto, Yoroi, dan tokoh Kintarō digunakan sebagai simbol harapan anak laki-laki yang sehat dan kuat. Kue yang dimakan selama perayaan adalah kue chimaki dan kashiwamoci.

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

a) Hinamatsuri merupakan festival boneka yang merupakan perayaan yang ditujukan untuk anak perempuan, keluarga yang mempunyai anak perempuan memajang satu set boneka.

b) Shubun no hi merupakan hari ekuinoks yang merupakan titik awal musim semi. Pada saat ini rentang waktu siang sama panjangnya dengan waktu malam.

c) Hanami merupakan kebiasaan menikmati keindahan bunga sakura pada saat musim semi. Hanami biasanya dilakukan secara berkelompok dan dilakukan di tempat terbuka di bawah pohon sakura

d) Kodomo no hi merupakan perayaan hari anak-anak yang dilakukan dengan memasang koinobori.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: