morfologi

Morfologi adalah bidang ilmu linguistik yang mengidentifikasikan satuan-satuan dasar bahasa (morfem) sebagai satuan gramatikal. Morfem merupakan satuan bahasa terkecil yang maknanya secara relatif stabil dan dapat dibagi menjadi bagian bermakna yang lebih kecil. Misalnya morfem pada kata “berhak” yaitu [ber-] dan [hak], sedangkan fonemnya yaitu /b/, /e/, /r/, /h/, /a/ dan /k/. Morfem dibedakan menjadi 2, yaitu :

ÿ  Morfem bebas, yaitu morfem yang dapat berdiri sendiri secara potensial. Morfem ini tetap memiliki makna yang jelas meskipun tanpa menempel pada morfem lain. Misalnya: meja, kursi, lemari.

ÿ  Morfem terikat, yaitu morfem yang tidak mempunyai potensi untuk berdiri sendiri dan selalu terikat dengan morfem lain untuk membentuk suatu ujaran. Misalnya, kupu menjadi kupu-kupu, mayur menjadi sayur mayur.

Yang termasuk jenis morfem terikat adalah imbuhan (afiks) seperti prefix, infiks, sufiks, konfiks. Afiks merupakan bentuk terikat yang akan mengubah makna gramatikal bila ditambahkan pada suatu morfem. Proses atau hasil penambahan afiks pada akar kata disebut afiksasi. Prefiks merupakan afiks yang ditambahkan pada bagian depan pangkal suatu kata dasar. Misalnya, [ber] pada kata ber-main. Sufiks merupakan afiks yang ditambahkan pada bagian belakang pangkal suatu kata dasar. Misal, [-an] pada kata hambat-an. Infiks merupakan afiks yang ditambahkan atau disisipkan ke dalam kata dasar. Misal, [-er-] pada kata g-er-igi. Konfiks merupakan afiks tunggal yang terjadi atas penambahan 2 bagian afiks yang terpisah (ditambahkan di awal dan di akhir), misal: ke-an dalam ke-buruk-an.

Ilmu ini bisa juga diteliti secara bersamaan dengan kajian ilmu linguistik yang lain, sehingga ada beberapa istilah untuk kajian ilmu ini seperti morfofonologi, morfosintaksis dan morfosemantik. Berikut ini merupakan kajian yang dapat dilakukan untuk meneliti afiksasi dalam sebuah bahasa. Kajian tersebut antara lain :

Infleksi adalah perubahan bentuk kata yang menunjukkan berbagai hubungan gramatikal; unsur yang ditambahkan pada sebuah kata untuk menunjukkan suatu hubungan gramatikal, misal: /s/ pada kata [girls] menunjukkan jamak, /s/ pada kata [eats] menunjukkan infleksi kata kerja (verba) orang ketiga.

Derivasi adalah proses pengimbuhan afiks non-inflektif pada morfem dasar untuk membentuk kata.

Kedua kajian tersebut (derivasi dan infleksi) memiliki ciri yang sangat bertolak belakang. Berikut ini merupakan ciri-ciri sekaligus perbedaan antara kedua kajian tersebut :

No.

Derivasi

Infleksi

1.

Tidak relevan dengan sintaksis Relevan dengan sintaksis

2.

Opsional Obligatori

3.

Dapat diganti dengan kata sederhana Tidak dapat diganti dengan kata sederhana

4.

Konsepnya baru Konsepnya sama dengan bentuk dasarnya

5.

Makna cenderung konkret Makna cenderung abstrak

6.

Tidak beraturan secara semantik Beraturan secara semantik

7.

Sangat berhubungan dengan makna dasar Hubungan dengan makna dasar hilang

8.

Penggunaannya terbatas Penggunaannya tidak terbatas

9.

Ekspresi terdekat pada kata dasar Ekspresi di luar struktur inti

10.

Menambah alomorf dasar Alomorf dasar hilang

11.

Tidak ada ekspresi yg bertumpuk Memungkinkan ekspresi yg bertumpuk

12.

Ada pengulangan suku kata Tidak ada pengulangan suku kata

Reduplikasi adalah proses dan hasil pengulangan satuan bahasa sebagai alat fonologis atau gramatikal. Dalam ilmu linguistik reduplikasi dibedakan menjadi 8 jenis, yaitu :

Reduplikasi antisipatoris, yaitu reduplikasi yang terjadi karena bahasawan (ahli linguistik) mengantisipasikan bentuk yang akan diulangnya.

Reduplikasi fonologis, yaitu pengulangan unsur-unsur fonologis seperti fonem, suku kata atau bagian kata. Reduplikasi fonologis tidak ditandai oleh perubahan makna.

Reduplikasi gramatikal, yaitu pengulangan fungsional dari suatu bentuk dasar.

Reduplikasi idiomatis, yaitu reduplikasi yang maknanya tidak dapat dijabarkan dari bentuk yang diulang.

Reduplikasi konsekutif, yaitu reduplikasi yang terjadi karena bahasawan (ahli linguistik) mengungkapkan lagi bentuk yang sudah diungkapkan, prosesnya terjadi ke belakang.

Reduplikasi morfologis, pengulangan morfem yang menghasilkan kata.

Reduplikasi non-idiomatis, yaitu reduplikasi yang maknanya jelas baik dari bagian yang diulang maupun prosesnya.

Reduplikasi sintaksis, yaitu pengulangan morfem yang menghasilkan klausa.

Pemajemukan (compounding) adalah penggabungan dua morfem dasar atau lebih untuk membentuk satu kata (majemuk). Misalnya, sapu tangan (sapu + tangan), rumah sakit (rumah + sakit).

Berikut ini merupakan pendapat para ahli mengenai infleksi dan derivasi.

a)        Langacker, (Language and It’s Structure, 1973:78-79) menyebutkan bahwa ketika afiks derivasional dan infleksional melekat pada suatu kata dasar, ada kecenderungan yang kuat bagi afiks derivasional untuk lebih dekat dengan kata dasar tersebut jika dibandingkan dengan afiks infleksional. Misalnya, pada kata [darkens], sufiks [-en] menderivasi ajektiva dark menjadi darken ; kemudian sufiks infleksional s melekat pada kata hasil derivasi tersebut.

b)        Scalise, (Generative Morphology, 1984 : 103) berpendapat bahwa afiks derivasional tidak dapat melekat pada kata yang sudah diinfleksi, namun afiks infleksional dapat melekat pada kata yang sudah diderivasi.

c)        Katamba, (Morphology, 1993 : 50) menyebutkan bahwa afiks derivasional adalah afiks yang dipergunakan untuk membuat suatu leksem baru, baik dengan cara memodifikasi makna akar kata tempat mereka menempel, mengubah kelas gramatikal yang menyebabkan perubahan makna, maupuan mengubah sub-kelas gramatikal sebuah kata tanpa mengubahnya menjadi sebuah identitas kata yang baru.

d)       Tsujimura, (An Introduction to Japanese Linguistics, 1996:141-142), Morfem derivasional adalah morfem terikat yang dapat mengubah makna dan atau kategori kata yang dilekatinya. Misalnya, morfem [す-, su- (telanjang)] dilekatkan pada kata benda (nomina) [あし, ashi (kaki)] menjadi [すあし, suashi (kaki telanjang]. Morfem [す-, su-] tidak mengubah identitas kata yang dibentuknya, namun mengubah makna kata tersebut. Sementara itu, morfem infleksional tidak membuat suatu kata baru yang berbeda, seperti yang dilakukan oleh morfem derivasional. Misal dalam bahasa Jepang terdapat morfem yang menunjukkan kalimat bukan lampau biasanya ditandai dengan morfem [-る, -ru] dan kalimat lampau ditandai dengan morfem [-た, -ta].

Klitika merupakan morfem pendek yang terdiri atas 2 silabel atau paling tidak satu silabel. Morfem ini tidak bisa diberi aksen atau tekanan dan mengandung arti yang sulit dideskripsikan secara leksikal. Klitika juga tidak terikat pada morfem-morfem tertentu (morfem bebas). Namun adakalanya klitika juga selalu terikat pada morfem-morfem tertentu (morfem terikat). Misalnya, klitika [-pun] dan [-lah] (contoh klitika dalam bahasa Indonesia). Berdasarkan letaknya, klitika dibedakan menjadi 2 jenis yaitu :

Proklitika, merupakan klitik yang terletak di sebelah kiri dari suatu kata.

Enklitika, merupakan klitik yang terletak di sebelah kanan dari suatu kata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: